Oleh: akbarmangindara | 14 Mei 2016

Malam “I La Galigo, Asekku” di Taman Ismail Marzuki

Foto bersama para Pemain Teater Tari I La Galigo, Asekku !

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.32 WIB ketika saya tiba di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Saya sudah telat ini, pikirku berkecamuk! Saya menghabiskan waktu 3,5 jam hanya untuk jarak 22 KM. Jakarta memang sungguh luar biasa.

Keramaian masih nampak di lobi Graha Bhakti Budaya. Beberapa orang masih mengantri untuk tiket pertunjukan “I la Galigo, Asekku”. Terdengar sahut-sahutan orang-orang menggunakan bahasa Makassar dengan logat kentalnya. Saya pulang kampung ini, pikirku. Saya tidak menyangka akan menyaksikan pertunjukan teater ini di luar Sul-Sel. Sudah sekian kali di pentaskan di Makassar tapi saya selalu melewatkannya. Tahun 2011, Sureq Galigo dinobatkan oleh UNESCO sebagai epik mitos terpanjang di dunia sekaligus sebagai warisan budaya dunia dalam kategori “Memory Of the World”.

IMG_20160513_195533

Suasana di Lobi Graha Bhakti Budaya sebelum pertunjukan I La Galigo, Asekku

Beberapa Lukisan dari tanah liat oleh Zaenal Beta

Kegiatan ini juga disemarakkan dengan pameran lukisan tanah liat oleh sang maestro lukis tanah liat “Zaenal beta”. Di lantai 2 gedung graha bhakti budaya, penonton disuguhi dengan beberapa camilan khas tanah bugis seperti jalangkote, pallu butung dll. Sayang, saya cuma sempat mencicipi satu buah jalangkote sebelum masuk ke ruangan pertunjukan. Setidaknya mengobati sedikit kerinduan akan makanan khas Sul-Sel.

I La Galigo, Asekku ini adalah sebuah pertunjukan teater-tari yang bercerita tentang kehidupan Sawerigading, putera batara Lattuq dan We datu Sengngeng. Berkisah cerita cinta terlarang Sawerigading kepada adik kembarnya I Tenri Abeng. Cinta terlarang yang kemudian membuat Sawerigading berlayar mengarungi tujuh peperangan di tujuh samudera, meninggalkan tanah kelahirannya tanpa berniat untuk kembali lagi. Yang di tujunya adalah Negeri Cina yang rajanya memiliki putri serupawan dengan adik kembarnya. Nama sang putri itu bernama I We Cudai.

Mempersunting we Cudai bukan perkara mudah. Segala mahar perkawinan yang diminta mudah ditunaikan. Namun keangkuhan We Cudai harus berbalas perang yang membuat raja cina bertekuk lutut dan berjanji membuat we cudai agar bersedia menjadi isteri Sawerigading.

Dalam perkawinan yang penuh dengan lika liku dan syarat rumit itu, lahirlah putera mereka I La Galigo, putera rupawan yang namanya bermakna: kerumitan

Pertunjukan teater tari ini diselenggarakan oleh ikatan alumni Universitas Hasanuddin Jabodetabek sebagai rangkaian peringatan 60 tahun UNHAS.

Pertunjukan teater tari sekitar 2 Jam ini juga semacam pertunjukan pemanasan sebelum tim yang di ketuai oleh Ilham Anwar (Sutradara dan Penulis Skenario) bertolak ke Paris Prancis untuk dipentaskan di sana pada tanggal 5 Juni 2016 nanti. Sebelumnya pertunjukan ini juga sudah dipentaskan di 22 April 2016 kemarin di Kuala Lumpur Malaysia.

IMG20160513211044

Sawerigading berlayar menuju China

IMG20160513211147

IMG20160513221754

Kru dan para Pemain I la galigo, Asekku !

Sangat menyenangkan menyaksikan pertunjukan teater tari ini secara langsung dan pertama kalinya. Sekitar 600 penonton yang ikut menyaksikan pertunjukan teater tari ini juga terlihat antusias. Berharap kegiatan serupa sering-sering diadakan dan di pentaskan baik di dalam negeri dan luar negeri. Tinggal menunggu bagaimana keseriusan pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini. Sekalian ajang promosi wisata juga kan! Semoga..

***

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: