Oleh: akbarmangindara | 15 Januari 2016

Kisah Kahar, Kusta dan Cerita Tentang Difabel

Karena Kerbatasan Tidak Akan Menghalangi Kita Untuk Berbuat Lebih

Sudah bukan rahasia lagi kalau para penyandang difabel acapkali di cap sebagai warga kelas 2. Di negeri ini, “perbedaan” masih sulit diterima. Masih ingat, seberapa hebat pun seorang Gusdur dan walaupun dia sudah menjadi presiden, pandangan miring sebagian besar masyarakat kita masih tidak mau menerima. “Ah orang buta bisa ngapain? yang milih gusdur pasti juga buta.”

Di Indonesia, belum ada satupun kota yang betul-betul ramah terhadap kaum difabel. Sehingga sering kali para penyandang difabel sulit untuk mengakses fasilitas umum. Nah untuk ini, Indonesia harus belajar di negeri Ratu Elisabeth.

***

15 November 2015. Siang itu matahari cukup terik. Di luar jalan, Kemacetan tak terelakkan, bising bunyi klakson semakin bersayup-sayutan. Asap kenalpot dan debu jalanan berseliweran di jalan yang sementara mengalami perbaikan. Saya berdiri tepat di depan jendela.

“Seandainya orang yang cacat bisa seperti jalan yang di depan ya Bar, yang sudah cacat tapi masih bisa diperbaiki kembali. Alangkah indahnya dunia ini!” Gurauan Kahar yang berada tepat di sampingku, memandang keluar dari balik kaca jendela.

“Ayo Bar kita duduk, pertemuannya sudah mau dimulai!” Ajak Kahar

Kahar adalah teman saya, dia seorang guru. Seorang mantan penderita kusta yang usianya masih muda, hanya beda setahun dari usia saya yang sudah 25 tahun. Selain aktif sebagai guru, kahar juga aktif sebagai penggiat kusta di kabupaten. Aktivitasnya membantu orang-orang yang mengalami kusta dalam mendapatkan fasilitas kesehatan utamanya pengobatan. Tak jarang dia jemput langsung penderita kusta yang sudah cacat dengan sepeda motornya sendiri untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan juga mengantarkan obat kusta ke penderita kusta. Selain itu kahar juga aktif dalam pencarian kasus di masyarakat utamanya di sekolah-sekolah. Saat ini dia menjabat sebagai Presiden Persatuan Mantan Kusta di Kabupaten Jeneponto (Permata).

Kahar memberikan penyuluhan kusta di sekolah

Kahar memang bukanlah seorang difabel seperti pengidap kusta kebanyakan yang sudah cacat. Walau begitu dia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pengidap kusta karena pernah merasa sepenanggungan seperti mereka. Dia masih memiliki fisik sempurna, postur tubuh yang baik, badannya tegap, penampilannya rapi dengan kaki baju yang tak pernah berada di luar celana. Rambut belah sampingnya pun selalu nampak klimis, tak sekalipun saya pernah melihat rambutnya berantakan. Kulitnya Sawo Matang, efek samping obat kusta yang pernah di jalaninya selama setahun lebih lamanya.

Kahar pertama kali ditemukan oleh Wasor Kusta Jeneponto beberapa tahun yang lalu secara tidak sengaja melihat suatu bercak putih di tangan kahar. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata bukan bercak biasa. Kahar didiagnosa kusta. Sekarang sudah 2 tahun pasca selesainya pengobatan obat kusta yang dijalaninya. Kahar dinyatakan sembuh dan sudah tidak ada lagi kuman Micobacterium Leprae di dalam tubuhnya.

Kusta memang selalu identik dengan cacat fisik tangan dan kaki yang jari-jarinya fleksi atau terputus. Episode terakhir kusta memang selalu berujung kecacatan bagi yang terlambat atau tidak menjalani pengobatan kusta. Dan ketika sudah cacat, tidak ada satupun obat yang bisa mengembalikannya seperti semula.

Di daerah saya di Jeneponto, Penyandang difabel kusta lebih kompleks lagi masalahnya. Mereka terkungkung dengan stigma yang sangat besar sebagai penyakit kutukan. Tak jarang kami jumpai mereka di rumah-rumah kebun atau tinggal di rumah yang lebih layak disebut kandang kambing, tak ada kartu tanda penduduk ataupun kartu keluarga. Jangankan berusaha memanfaatkan layanan umum, bertemu dengan orang lain saja mereka sangat sungkan.

**

Hari ini digelar pertemuan organisasi Permata dari seluruh wilayah Sul-Sel. Saya datang bersama Wasor Kusta Kabupaten Jeneponto sebagai perwakilan dari dinas kesehatan kabupaten Jeneponto yang diundang. Nampak wajah-wajah muda menghiasi pertemuan. Rata-rata peserta sebaya denganku. Hari ini kita kedatangan tamu spesial yang seringkali menginspirasi para difabel.

“Sudah datang, sudah datang!” Bisik-bisik orang di sekitarku.
Dari balik pintu, muncul orang yang sedari tadi telah ditunggu kedatangannya dalam pertemuan ini. Jalannya tidak biasa, kaki kanannya menghadap ke kanan dan kaki kirinya menghadapi kekiri. Dia terlihat berusaha keras untuk berjalan.

“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, nama saya Sunarman Sukamto biasa dipanggil Sunarman. Saya dari Solo dan saya seorang difabel.” Memulai pembicaraan dengan senyum sumringah yang dijawab oleh peserta pertemuan dengan “walaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.”

Tidak ada orang di dunia ini yang menginginkan dirinya cacat. Kaki saya cacat begini bukan karena saya yang mau. Saya lahir dengan kondisi fisik sempurna tapi virus Polio membuat segalanya berubah” lanjutnya.

“Para difabel seringkali dipandang sebelah mata. Masuk ke perusahaan untuk melamar pekerjaan dikiranya peminta sumbangan. Sering kena bully mulai dari sekolah dasar hingga  perguruan tinggi dengan berbagai macam cap gelar sudah saya dapatkan” Jelasnya

“Tapi apakah saya sedih? Tidak. Saya selalu yakin bahwa Tuhan punya rencana terbaik bagi saya!” Tuturnya

Bang Sunarman adalah seorang difabel yang juga seorang aktivis pejuang difabel. Dia lantang memperjuangkan kesetaraan hak para difabel di Indonesia khususnya di Jawa Tengah. Advokasinya ke pemerintah acapkali berbuah hasil utamanya dalam pembuatan fasilitas umum yang ramah difabel.

Hampir 2 jam lamanya saya mendengar kisah membangun dari bang Sunarman ini. Sama seperti kahar, keduanya adalah sosok yang sangat inspiratif.

Iklan

Responses

  1. Inspiring story, semoga ke depannya Indonesia lebih peduli dengan para difable, dari segi fasilitas umum maupun penyediaan lapangan kerja…..sudah selayaknya kita peduli terhadap lingkungan sekitar kita, no body’s flawless, kita hdup untuk saling melengkapi.

    Disukai oleh 1 orang

    • Amien

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: