Oleh: akbarmangindara | 29 Juni 2015

Santri, Masjid dan Kekerasan Terhadap Anak-Anak


Memulai tulisan ini saya mengucapkan Happy Anniversary buat blog saya yang hari ini berulang tahun yang ke enam. Andaikan seorang anak, dia sudah masuk sekolah dasar kelas 1. Sebagai permintaan maaf dan sebagai hadiahnya saya membuat tulisan setelah lama berpuasa ngeposting tulisan di blog ini selama beberapa bulan.

***

Kemarin saya membaca sebuah postingan di facebook dengan judul “Dibutuhkan Masjid Ramah Anak” dan itu sedikit membuat saya sedikit flashback mengingat ingat kembali dengan kehidupan saya sewaktu saya anak-anak dulu.

Sekitar tahun 1997 sewaktu di kampung (sekarang juga masih di kampung) saya masuk Taman Kanak-kanak Taman Pendidikan Agama (TK TPA) , tepatnya TK TPA Masjid At-Taqwa. Saya menjadi seorang santri untuk pertama kali dan bahagianya tidak ketulungan. Saya bertemu dengan banyak teman dan guru-guru ngaji yang super sabar dan baik hati mengajar kami. Selama perjalanan menjadi seorang santri saya mendapatkan begitu banyak pembelajaran selain tentunya belajar mengenal huruf-huruf arab dan membaca Al-Qur’an.

Jauh di pikiran saya sewaktu masih anak-anak dulu adalah bahwa ketika saya mengingat Masjid yang terlintas di pikiran saya bukan shalat melainkan bahwa saya akan bertemu dengan teman-teman baru saya, mengaji bersama, bermain, berlarian, kejar-kejaran di masjid. Masjid menjadi tempat yang sangat “Fun” sehingga dulu, masjid menjadi magnet yang sangat kuat bagi kami anak-anak untuk datang ke masjid, ya walaupun masih ada hal yang tidak menyenangkan juga. Tetapi hal yang menyenangkan jauh lebih banyak.

Kami belajar mengaji setiap sore selepas shalat Ashar. Bu Jinne, bu Rohani dan pak Tono adalah 3 guru ngaji saya yang super duper baik dan sabar. Guru-guru yang masih suka marah-marah kepada siswa-siswanya mungkin harus belajar kepada ketiga guru ngaji saya ini tentang bagaimana cara menghadapi anak-anak. Mereka begitu sabar mengajari kami yang puluhan santri mengaji dimulai dari Iqra sampai Al-Qur’an. Tidak pernah tuh ada satu kalimat kasar yang keluar dari ketiga mulut beliau apalagi memukul. Mereka sangat berpengaruh dalam hidup saya. Mereka menjadi tauladan saya utamanya dalam hal bersabar.

Satu hal yang tidak menyenangkan sewaktu Santri dulu cuma tentang H.Tinri (Alm). Ya, Namanya H.Tinri, salah satu alasan kenapa kami mulai tidak nyaman di Masjid karena ada beliau yang selalu memarahi kami setiap kali kami bermain, berlarian di Masjid. Buat Beliau mungkin bahwa kehadiran kami (anak-anak) mengganggu padahal kami pun bermainnya setelah shalat ashar selesai dan setelah mengaji. Pokoknya H.Tinri selalu menjadi momok yang menakutkan bagi kami para santri yang suka bermain dan berlarian di Masjid. Makanya setiap kali mau bermain, kita lihat sekeliling dulu apakah H.Tinri ada atau tidak. Kalau ada, pecah deh suasana masjid, ributnya tidak ketulungan (hehehe). Tetapi ada saja sih teman yang membandel, walaupun H.Tinri ada tetap saja selalu ada santri yang bermain kejar-kejaran di dalam Masjid.

Makanya di usia dewasa saya sekarang saya mengerti sekali dengan dunia anak, dan berusaha untuk tidak melakukan hal yang orang dewasa dulu lakukan kepada saya sewaktu anak-anak yakni berkata kasar . Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman masa lalu bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan dalam hal ini kekerasan verbal maupun fisik akan begitu sangat membekas dan jadi trauma psikologis tersendiri. Mungkin saya adalah salah satu dari ribuan manusia yang sewaktu kecil sudah penuh dengan kekerasan. Kekerasan yang saya alami lebih banyak mengarah kepada kekerasan secara verbal. Ya saya sudah kenyang dengan Bullyan dari SD sampai SMA, tapi yah gituh, saya mah sabar orangnya walaupun sesekali nangis di pojokan hehehe. 

Kekerasan terjadi karena banyak yang melakukan hal demikian dan akhirnya terbentuk lingkungan menjadikan itu sesuatu yang lumrah. Kekerasan terhadap anak tidak akan pernah hilang dari dunia ini selama kita masih menganggap ini adalah hal yang wajar-wajar saja. Dan please buat orang dewasa lainnya, dan ini yang kemudian saya ingin katakan semasa kecil dulu adalah tolong berhenti menjadi manusia dewasa yang menyebalkan yang tidak mengerti kami para anak-anak.

 

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: