Oleh: akbarmangindara | 26 November 2014

Malam di Kota Tua, Semakin Malam Semakin Jadi

Bulan di langit kota tua

Bulan di langit kota tua

Ini ketiga kalinya saya berkesempatan mengunjungi ibu kota Jakarta tapi yang pertama kali saya mengunjungi daerah Kota Tua. Kesan pertama sewaktu tiba disana adalah “Ramai”. Kota tua di malam hari jadi pasar tumpah. Kebetulan jarak Kota Tua dengan hotel tempat menginap cukup dekat sekitar 250-300 meter jadi cukup jalan kaki saja sudah nyampe. Saya kesana pas malam hari bersama teman-teman kampus, ada K maul, Resti, andar, sama K Ari.

Ada banyak dan beragam ketika tiba di kota tua ini. Selain pedagang yang ramai menjual berbagai macam barang, pernak-pernik, aneka makanan, ada juga pertunjukan live musik, serta aktivitas “mengabadikan” suasana lewat kamera. Saya pun menjajal kemampuan saya dalam memotret walau terkadang juga bertindak sebagai objek. hehehe

DSC_1452Foto

Bangunan utama di dalam kota tua mungkin sementara di renovasi sehingga sewaktu tiba di sana bangunan utama sementara ditutupi dengan terpal raksasa yang menutupi area depan bangunan dengan gambar bangunan itu sendiri yang tampak depan. Di depannya kami berfoto dengan setan.

DSC_1400Ini pertama kalinya berfoto langsung bareng “setanggggg”. Walaupun awalnya takut berfoto sama mereka, tapi setelah berjuang meningkatkan tingkat adrenalin ke taraf maksimal akhirnya saya coba berfoto. Malam itu adalah malam jumat jadi suasana cukup mendukung. Dan entah kenapa, setiap kali ada yang horor aja, muka Zusanna tiba-tiba langsung terbayang di pikiran saya.DSC_1392Dari sini kami kemudian keliling mencari bangunan lain yang agak sepi yang dindingnya bisa kami jadikan latar.

DSC_1432Foto dengan mobil tua dan harley pun tak kalah menariknya. Prinsipnyanya “kapan lagi”. Tidak setiap waktu bisa datang ke sini, jadi di puas-puasin untuk berfoto ria.

IMG_1759

Hamil 6 bulan (Ngidam Naik motor harley)

Kami juga memasuki sebuah kafe (saya lupa namanya) menikmati secangkir “hot cocho” senilai 40 ribuhhh. Bayangin cuma secangkir coklat panas biasa doang yang tinggi dan diameter cangkirnya tidak lebih dari 10 cm dan rasanya tidak lebih dari “frisian flag kalengan” tapi harganya segitu. Dan itu adalah minuman yang paling murah di situ. Behhh nyesal banget pikirku awalnya sehabis memesan secangkir coklat panasnya. Tapi kemudian semuanya terbayarkan dengan suasana di dalam kafe ini dengan pertunjukan live musik jazznya, serta setiap sudut tempat di kafe ini yang sangat menarik dan sayang untuk dilewatkan yang kemudian kami jadikan background dari kegiatan berfoto-foto ria selama berada di sini.

DSC_1560Kerak telor

Setelah dari kafe kami keluar untuk mengisi Indonesia bagian tengah (baca: perut). Kalau kami paksakan juga makan di kafe juga, bisa bangkrut deh kita. Perjalanan keliling jawa dan bali masih ada 10 hari jadi mesti berhemat.

Saya sudah meniatkan dalam hati saya sebelum tiba di sana, bahwa saya harus mencoba yang namanya “kerak telor”. Dan akhirnya kesampaian juga mencoba kerak telornya walaupun harus berjuang keliling kesana kemari mencari penjual kerak telornya. Selama berada di sini saya cuma menemukan 2 penjual kerak telor, entah pada kemana semua atau memang di sini jarang yang menjual kerak telor. Perjuangan yang tidak sia-sia, seporsi kerak telor harga 15 ribu akhirnya tercicipi juga. Rasa kerok telornya mungkin sama dengan kerak telor yang kalian pernah coba. Yahhh pokonya seperti itulah rasanya.

Semakin malam suasana di kota tua semakin ramai, cocok dengan perumpamaan tua-tua keladi semakin tua semakin jadi. Yahhh inilah kota tua jakarta dengan segala geliatnya. Ingin berlama-lama di sini tapi apa daya badan sudah terlalu lelah, pun mata sudah 5 watt. Kami harus pulang, besoknya masih akan ada perjalanan panjang dengan bus menuju Kota yang lebih Istimewa “Jogjakarta”.

                                          Di tulis dengan mata 5 watt di Malam jumat kliwon, 7 November 2014

Iklan

Responses

  1. Café Batavia. Suatu malam nongkrong centil di sana dan tiba-tiba ada tikus got lari-lari di dalam Café. Lebih mengerikan daripada setan!

    Suka

    • hahaha. ngeri.. tikus gotnya lebih gede dari seekor kucing. biasanya ..

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: