Oleh: akbarmangindara | 19 September 2014

Terhubung Karena “Telpon Rumah”

telpon

Sekitar tahun 1997, untuk pertama kalinya saya mengenal namanya dunia “Connected”, dunia dimana orang bisa bercakap-cakap langsung tanpa melihat wajah satu sama lain. Sesuatu yang sangat luar biasa menurut saya waktu itu sebagai anak kampung di salah satu desa di Jeneponto, namanya desa Pabiringa. Sebuah barang yang dulu cuma saya lihat di layar televisi lewat sinetron ibu kota, kini barang itu berada di rumah kami. Kita menyebutnya dengan telpon rumah. Waktu itu saya masih kelas 2 sekolah dasar, bapak berlangganan dan memasang telpon rumah di rumah kita. Pada waktu itu saya belum bisa membayangkan bagaimana canggihnya sekarang bahwa akan ada sebuah alat yang lebih canggih dari telpon rumah ini dimana orang bisa bercakap-cakap bahkan saling bertatap muka walaupun berbeda tempat tanpa menggunakan kabel telpon.

Bapakku waktu itu adalah pelanggang pertama telpon rumah di lorong kami dan belum ada satupun rumah yang punya telpon rumah seperti kami. Setelah memasang telpon rumah, banyak tetangga yang berdatangan ke rumah untuk melihat telpon rumah kami. Nomor telpon rumah kami pada waktu itu 0419-21588. Hampir semua tetangga mengambil nomor telpon rumah kami dan alhasil jadilah telpon rumah kami sebagai nomor massal di lorong kami. Telpon rumah kami menjadi penyambung komunikasi antara tetangga dengan sanak saudaranya yang jauh di daerah lain. Hampir setiap hari telpon rumah sibuk berdering terutama pada sore hari dan yang dicari bukan orang-orang di rumah tapi para tetangga-tetangga.

Saya sendiri bersyukur, karena telpon rumahlah keakraban dan silaturahmi antar tetangga di lorong kami semakin terjalin. Tiap sore, rumah hampir selalu ramai oleh tetangga-tetangga yang pada nongkrong di teras depan rumah. Dampak lainnya setelah ada telpon rumah ini, telinga para tetangga saya juga semakin lebih peka, setiap kali telpon rumah berdering mereka duluan yang berteriak kalau telpon rumah berdering. Padahal orang di dalam rumah saja biasa tidak mendengar kalau telpon rumah berdering. Hahaha.

Telpon rumah kami beberapa kali menjadi super hero, salah satunya sewaktu menghubungkan kami dengan pihak pemadam kebakaran dan pihak perusahaan Listrik Nasional (PLN) dimana pada waktu itu sementara terjadi krosleting listrik di salah satu rumah tetangga dimana kilatan listriknya mulai menyambar-nyambar, yang hampir membuat kebakaran, tetapi kemudian dapat di cegah setelah kedatangan petugas PLN dan pemadam kebakaran yang dengan sigap menanganinya dengan cepat. Padahal dulunya jika ada kejadian seperti itu biasanya orang-orang langsung ke kota kabupaten untuk melapor atau pergi mencari warung telpon “wartel” untuk menelpon pihak terkait yang pada waktu itu juga keberadaannya masih sangat minim di daerah saya dulu.

Saya sendiri sebenarnya jarang menggunakan telpon rumah untuk menghubungi orang. Tugas saya memang lebih banyak sebagai penerima telpon. Biasanya saya menggunakannya untuk menghubungi teman-teman sekolah, pembicaraannya seputar tugas-tugas sekolah. Di awal-awal ketika telpon rumah masih baru-barunya tempat favorit saya adalah sofa dekat telpon rumah kami terpasang. Tujuannya satu, saya cuma ingin mendengar kata “Halo” dan berbalas “Halo” di telpon. Sederhana sih bagi anak kecil macam saya dulu di kampung, tapi ya itu kesannya masih terasa sampai sekarang.

Seiring berjalannya waktu, tiga tahun setelahnya,  satu persatu tetangga juga mulai berlangganan telpon rumah dan praktis hampir tidak ada lagi tetangga yang menerima telpon di rumah karena mereka juga sudah pada memiliki telpon rumah. Setelah punya telpon rumah sendiri, ini tetangga saya mulai pada iseng dengan menelpon rumah untuk sekedar membunyikan telpon rumah di rumah saya. kalau istilahnya sekarang yang menggunakan telpon genggam “CUMI, (cuma misscall doang)”. Terkadang juga Cuma say “Halo” dengan saya, habis itu telpon kemudian langsung  ditutup.

Telpon rumah kami juga menjadi saksi bagaimana saya dan saudara-saudara saya terkoneksi dengan bapak dan ibu ketika mereka berada di tanah suci mekah. Hampir setiap tengah malam, jam 1 atau jam 2 malam kami terbangun atau bahkan tak jarang kami jaga malam menunggu telpon dari bapak dan ibu yang sementara berada di Mekah. Biasanya mereka buat janji untuk menelpon sehingga kami bisa bersiap-siap menerima telpon. Walaupun cuma mengobrol sebentar untuk sekedar menanyakan kabar, itu sudah cukup mengobati perasaan rindu kami pada waktu itu yang di tinggal bapak dan ibu yang sementara menunaikan ibadah haji di Mekah, Arab Saudi.

Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dari tahun ke tahun, akhirnya di Awal tahun 2013 lalu, telpon rumah kami akhirnya dipensiunkan oleh bapak. Tahun 2004 bapakku memiliki telpon genggam pertamanya dan praktis kegiatan menelpon lebih banyak dengan menggunakan telpon genggamnya. Telpon rumah kami hanya digunakan untuk menerima telpon tapi tidak untuk menelpon. Beberapa tahun setelahnya setelah kami semua memiliki telpon genggam masing-masing, telpon rumah betul-betul hanya sekedar menjadi pajangan. Saya bahkan sudah lupa bagaimana bunyi dering telpon rumah karena saking lamanya saya tidak pernah mendengarnya berdering lagi.

Harapan terhadap Trans Studio Makassar

Trans-Studio-Makassar

Sekarang walaupun telpon rumah sudah ditinggalkan dan digantikan dengan kemunculan telpon genggam yang jauh lebih canggih, tapi tetap telpon rumah memiliki kesan tersendiri yang sangat mendalam buat saya pribadi. Terutama bagaimana berkesannya telpon rumah yang membantu dan menghubungkan banyak orang di masa jayanya dulu.

Seperti halnya telpon rumah yang menghubungkan dengan banyak orang serta memberikan kesan yang mendalam, harapan besar saya terhadap trans studio Makassar juga senantiasa memberikan kesan yang mendalam bagi para pengunjungnya. Saya berharap Trans Studio mall selalu bisa menghadirkan inovasi-inovasi baru dan kreatif, permainan-permainan yang menyenangkan serta pertunjukan-pertunjukan yang aktraktif yang memanjakan mata, sehingga ketika pulang dari trans studio mall, selalu ada hasrat rindu untuk selalu datang ke tempat ini.

Harapan saya lagi Trans Studio Mall bisa menjelma sebagai rumah kedua yang menghubungkan banyak keluarga , banyak teman sehingga menjadi rumah yang penuh kenangan sekaligus tempat pelampiasan rindu untuk berkumpul bersama, tertawa bersama serta berbagi keceriaan dan kebahagiaan ketika berada di tempat ini. Salam 🙂

(Tulisan ini memenangkan “Lomba Blog Connected” sebagai tulisan terbaik ke empat yang diadakan oleh Trans Studio Makassar 2014)

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: