Oleh: akbarmangindara | 16 Agustus 2014

Stase Pediatric: Tangisan, Kesabaran, dan Kasih Sayang

Sudah lebih 7 bulan saya berkutat dengan yang namanya profesi ners ini. Sekarang sudah memasuki stase kedua di pendidikan profesi ini yakni stase “Pediatric” atau biasa disebut departemen anak.

Berbeda dengan stase yang sebelumnya yakni departemen keperawatan medikal bedah yang lebih banyak bergelut dengan orang-orang dewasa, di stase pediatric ini harus menghadapi bayi, balita dan anak-anak yang tentu saja memerlukan ekstra perhatian dan ekstra kesabaran yang lebih dari sebelum-sebelumnya.

Hampir setiap hari telinga saya disenandungkan dengan tangisan-tangisan bayi dan anak-anak. Apalagi ketika jarum infusnya harus diganti, itu tangisannya makin kencang. Malahan ada pasien anak, belum diapa-apain dan saya cuma berdiri di sampingnya, nangisnya sudah kencang banget. Nampaknya sudah begitu trauma lihat orang pakai baju putih-putih. Saya sendiri rasanya pengen teriak kencang, sekencang-kencangnya.

Tapi itu lagi, bayi balita anak-anak adalah makhluk yang sangat unik. Kesabaran menjadi faktor yang paling penting di sini. Kita tidak bisa langsung memaksakan kehendak seperti yang kita inginkan. Kalau mereka ngamuk bisa bahaya. Seperti salah satu pasien saya anak umur 6 tahun yang kemudian minta pisau lalu berkata “Saya mau bunuh diri saja”, itu langsung membuat saya syok sendiri.

Saya teringat akan saran dosen saya di kampus yang sampe sekarang belum bisa saya terapkan, katanya kalau kita di departemen anak, tangisan anak itu nomor 2 yang penting anaknya selamat dulu. Sampai sekarang saya belum berani melakukan prosedur invasif pemasangan infus kepada anak. Suka tidak tegaan melihat mereka nangis kencang apalagi jika dalam percobaan pertama jarum infus gagal masuk ke vena si anak dan kemudian harus di cari di area lain tubuh si anak. Rasanya tuh seperti liat anak sendiri (padahal istri saja belum ada) dan saya tidak tega melihatnya. Sakitnya tuh di sini *SambilNunjukDada

Di sini jualah, di stase pediatric ini saya melihat bagaimana kasih sepanjang masa dari seorang ibu berjalan. Seperti melihat cahaya kasih yang begitu terang, tak kenal lelah, tidur pun jarang, sang ibu menemani, merawat sang buah hati tercinta yang sementara sakit. Raut kecemasan dari wajah sang ibu terpancar jelas berbicara bagaimana khawatirnya seorang ibu menanti kesembuhan anaknya.

Itu mungkin sekelumit cerita saya di stase pediatric ini. Dan Tepat pukul 04.00 setelah saya menulis postingan ini, salah seorang pasien anak yang sementara menderita Meningitis TB berpulang ke sang Pencipta. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya


*Ditulis dalam keadaan mata berat, di samping Bayi Radia yang sementara menangis akibat menderita gizi buruk dan pneumonia. Perawatan anak Baji Minasa, RSUD Labuang Baji Makassar, Sabtu 16 Agustus 2014, 03.30 dini hari.

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: