Oleh: akbarmangindara | 30 April 2014

Orang-Orang Kusta: Tawa Yang Hilang Kutemukan Di sini

kustaSumber Foto: Jaring News

Awalnya saya mengira para penyandang kusta adalah orang-orang yang menutup diri, tidak mau bersosialisasi dan ketus, tapi pandangan saya berubah setelah berbaur dengan mereka selama seminggu di minggu kedua profesi ners.

Pagi-pagi betul saya berangkat dari kosan menuju rumah sakit Tajuddin Halid, Rumah sakit tipe A khusus penyandang kusta. Jaraknyaa lumayan jauh dari tempat tinggal saya. Orang Makassar mengistilahkannya “Ujung pukul ujung”.

Kondisi rumah sakit terlihat cukup asri dengan beberapa taman dan kerindangan beberapa pohon yang tumbuh di area rumah sakit. Saya kemudian menuju ruang Dahlia, ruang dimana saya ditempatkan untuk dinas selama seminggu di rumah sakit ini. Di minggu ini saya bersama teman-teman kelompok harus menyelesaikan sistem Integumen (Kulit).

Ada sedikit perasaan yang sedikit aneh ketika saya tiba di ruangan. Kaki buntung, jari-jari tangan yang sudah tidak terlihat utuh dan masing-masing pasien memakai kursi roda menjadi pemandangan yang sudah terlihat dari kejauhan. Di depan ruangan Dahlia mereka bercengkerama berbaris dan layaknya pagar ayu saya seperti disambut bak tamu undangan yang akan masuk ke resepsi pernikahan. Mereka menyambut saya dengan senyum penuh kehangatan. Ini adalah pemandangan dan pengalaman yang tak pernah saya temukan sebelumnya.

Saya bertemu dengan kepala ruangan yang sedari tadi menunggu di dalam ruang perawat. Beberapa penjelasan terkait kondisi rumah sakit dan pasien dijelaskan dengan baik. Intinya pasien di sini adalah pasien mandiri jadi tidak usah repot-repot melakukan perawatan seperti di rumah sakit lainnya. Kita juga tidak perlu takut untuk berhadapan dengan mereka atau takut tertular, karena kuman M.Leprae sebagai penyebab kusta tidak mudah menular seperti dibayangan kita sebelumnya. Pokoknya perlakukan mereka seperti biasa saja.

***

Penyakit kusta atau lepra atau morbus hansen adalah penyakit yang diakibatkan oleh kuman Micobacterium Leprae. Di masyarakat penyakit ini diidentikkan dengan penyakit kutukan sehingga orang-orang yang terkena kusta sering kali dikucilkan dari tatanan sosial masyarakat.

Banyak pengalaman yang saya dapatkan ketika berbaur dan merawat pasien kusta selama seminggu di rumah sakit ini. Saya bersyukur karena ketika berhadapan dengan kami petugas kesehatan, mereka membuka diri untuk berbicara. Salah seorang pasien kusta menceritakan bahwa mereka sangat malu ketika mendapatkan penyakit ini. Mereka malu untuk bermasyarakat, malu bertemu dengan keluarga sehingga hampir semua pasien kusta yang walaupun sudah sembuh enggan untuk kembali ke keluarga besar mereka dan memilih tinggal di rumah sakit dan menetap di sini dan bahkan membangun rumah tangga dengan sesama pasien kusta.

Seminggu di sini kami berbagi kebahagiaan, keceriaan, berbagi pengetahuan. Keakraban terjalin dengan sangat baik. Saya menjadi teman main kartu yang susah dikalahkan oleh mereka. Hahaha.

***

Untuk kasus sistem Integumen, saya diberi kasus “Xerotis Cutis“ oleh kepala ruangan. Pasien saya juga seorang penyandang kusta yang sudah setahun lebih berobat di rumah sakit ini.

***

Iklan

Responses

  1. Baru tau tentang kusta loooh hehehe, kirain bukan penyakit seperti itu.

    Suka

    • Emang di bandung ga ada penderita kusta ya?

      Suka

      • ada mungkin, cuma akunya aja gak tahu.

        Suka

  2. Ohhh baru tahu kalau kusta itu kuman.

    Suka

    • Kusta itu penyakitnya, kumannya bernama Micobacterium Leprae.. Hehehe

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: