Oleh: akbarmangindara | 26 Februari 2014

Hitam Putih Kehidupan “Hidup Dengan Ketidakjujuran”

hidup dengan penuh tanda tanya?

Banyak orang yang melihat saya sebagai orang yang kehidupannya mulus dan baik-baik saja. Itu tidak sepenuhnya benar, saya memiliki banyak sifat buruk dan negatif serta kenakalan yang sudah berada di tingkat kronis. Saya sendiri sebenarnya sangat malu untuk menceritakannya di sini dan ketika saya menuliskannya dan mempublishnya itu berarti saya sementara menghadapi tekanan psikologis yang sangat berat. Saya belajar dari sebuah kehidupan bahwa mengungkapkan sebuah keburukan diri kita sendiri itu sangat berat dan tidak semua orang mampu melakukannya.

Saya sebenarnya adalah orang yang sangat curang selama hidup saya sampai sekarang dan itu berarti saya bukanlah orang yang baik apalagi orang jujur. Hidup dengan kecurangan, ketidakjujuran saya  sudah memulainya sejak kecil semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Kisahnya dimulai sewaktu saya berada di tahun kelima sekolah dasar. Kebetulan ayah saya waktu itu adalah seorang KepSek SD tapi bukan di sekolah saya. Ayah memberikan soal dan kunci jawaban kepada saya di hari sebelum saya ujian. Ibupun tahu tentang ini. Waktu itu sebenarnya saya belum tahu kalau semua bentuk soal ujian di SD itu sebenarnya sama di semua sekolah dasar yang lain. Saya cuma nurut waktu itu dan menghapal semua kunci jawaban yang diberikan. Dalam bathin saya sebenarnya bergejolak keras tapi ada sudut lain di hati saya juga senang saya melakukannya. Andaikan kisah ini di televisi mungkin akan nampak Malaikat dan Iblis yang lagi berperang berusaha meyakinkan diri saya antara saya tidak melakukan atau melakukannya. Finally, iblis memenangkan peperangan ini dan saya melakukannya dalam ujian. Saya selalu berhasil menjawab semua ujian essay dengan benar dan selalu menjadi yang pertama menyelesaikannya. Lambat laun guru saya pun curiga dan menanyakan langsung ke saya, kenapa saya bisa melakukannya menjawab soal dengan benar sesuai kunci jawaban dan cepat.  Akhirnya dengan wajah polos dan dengan nada suara yang rendah saya jujur kepada guru saya waktu itu kalau saya sudah mendapatkan kunci jawaban dari bapak saya. Langit serasa runtuh dan mengenai pundak kecilku, jantungku mulai memompa darah dengan sangat cepat. Saya telah mengakuinya dan ini adalah sebuah aib. Ketika saya membicarakan hal ini kepada ibu saya, ibu agak sedikit marah karena saya mengakuinya. Sebenarnya saya malu mengakui bahwa sewaktu saya kecil, secara tidak sadar orang tua saya telah mengajari saya ketidakjujuran. Dan ketika saya menceritakan hal ini kepada sahabat saya sekarang, dia cuma mengatakan “Jahatmu jadi orang“. Guru saya yang telah mengetahuinya pun waktu itu tidak menghukum saya ataupun menasehati saya karena melakukan ini. Di pikiranku saat itu kenapa guru tidak menghukum saya karena dia adalah teman ibu saya. Di kehidupan dewasa saya saat ini, saya menyadari bahwa guru telah melakukan pembiaran dan sadar atau tidak, dia telah menanamkan di alam bawah sadar saya bahwa yang saya lakukan bukanlah hal yang salah dan diperbolehkan.

Karena kejadian itu, saya mulai kehilangan kepercayaan diri. Saya mulai menyenangi dunia berbuat kecurangan. Saya mulai suka menyontek ketika ujian dan sangat takut ketika saya mendapatkan nilai rendah apalagi tidak lulus dalam ujian. Saya bahkan pernah merubah angka di salah satu mata pelajaran di buku laporan SD dan parahnya saya kembali mengulanginya di salah satu mata kuliah saya di universitas. Jujur saja semua hasil ujian nasional mulai dari SD, SMP, SMA juga adalah hasil curang dan parahnya lagi adalah bahwa guru-guru membantu kecurangan berjamaah ini. prestasi-prestasi yang saya dapatkan pula hampir semuanya hasil berbuat curang seperti merampok beberapa kutipan tulisan tanpa menyebutkan nama penulis aslinya dan membumbuinya dengan beberapa tambahan kata-kata sendiri. Tapi setelah cek dan ricek ternyata kutipan tulisan yang saya rampok juga ternyata hasil rampokan. Saya menyadari bahwa saya tidak sendiri dan banyak melakukannya. Tapi tetap saja ini adalah hal yang tidak baik dan hal yang sangat memalukan terlebih ketika hal ini diketahui oleh orang lain.

Waktu SMA kelas 2, saya juga pernah mendapatkan nilai tertinggi biologi. Jujur saja, kemurniannya hanya 95% karena 5%nya adalah kembali hasil curang. Saat itu guru biologi mengerjai saya selama seminggu lebih dengan tidak memberikan kertas ujian padahal teman-teman saya sudah mendapatkan kertas hasil ujiannya semua. Ketika saya meminta kertas hasil ujian, guru biologi saya hanya mengatakan kalau saya mendapatkan nilai yang buruk dan dia sudah membuang kertas ujian saya ke tempat sampah. Akhirnya ketika kelas biologi selanjutnya, guru biologi mengumumkan kalau saya mendapatkan nilai sempurna dan tertinggi untuk ujian Biologi diantara semua kelas IPA waktu itu. Perasaan saya tentang hal ini, hati saya pun bergejolak, sisi malaikat dan iblis dalam diri saya kembali berkelahi. Entah siapa yang menang waktu itu. Saya senang mendapatkan nilai tertinggi dan teman-teman mulai menyanjung kepintaran saya, tapi tetap di sudut lain di hatiku tersimpan penyesalan yang cukup mendalam. 5% kecurangan yang menghancurkan kebanggaan sempurna akan arti “percaya pada diri sendiri, pada kemampuan sendiri”.

Terus terang apa yang saya ceritakan ini adalah rahasia yang sudah lama saya pendam dan sebenarnya sangat sulit bagi saya menceritakan aib saya sendiri. Saya penasaran bagaimana tanggapan orang-orang, teman-teman, sahabat atau bahkan keluarga saya sendiri ketika membaca ini. Faktanya adalah saya memiliki sisi akbar yang lain, akbar yang tidak pernah kalian lihat bahkan bayangkan sebelumnya.

Sekarang dengan menceritakan hal ini saya berharap bisa sedikit hidup lebih baik dan Tuhan memaafkan kesalahan-kesalahanku di masa lalu. Fakta lainnya adalah saya masih memiliki kisah yang jauh lebih Kelam, gelap dan dalam dari hal ini.

Iklan

Responses

  1. jika lingkungan yang kita harapkan tak kunjung berubah, kita mulai dari diri sendiri, yu sama-sama belajar merubah perspektif kita, appreciate sekali dengan tulisan ini bar 🙂

    Suka

    • Yaaa sebenarnya sangat malu utk menceritakan aib sndiri chan.. Thanks sdh support, sy jg smntara mempelajari diri sy sndiri terutama mngubah mindset negatif dalam diri sy sndiri..

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: