Oleh: akbarmangindara | 8 Januari 2014

Cerita Bapak Di 31Desember 2013

Pagi itu bapak mengajak saya ke Bulukumba. Biasanya kalau bapak mengajak saya ke suatu daerah, saya lebih banyak menolak ketimbang menerima ajakan bapak. Penolakan saya lebih banyak di dasari alasan karena saya mabuk darat mobilnya bapak apalagi jika bapak sendiri yang mengendarai mobilnya. Berada di atas mobilnya bapak biasanya ketahanan tubuh saya tak lebih dari 2 jam. Setelah itu rasa mual mulai menyerang, kepala pening dan terburuknya seluruh isi perut yang belum sempat dicerna oleh usus saya termuntahkan semua.

Alasan saya menerima ajakan bapak bepergian bersama dan cuma berdua saja karena mendengar kata “Bulukumba”. Sudah cukup lama saya tidak menginjakkan kaki saya di kota pembuat perahu phinisi ini. Terakhir kali ke Bulukumba adalah di tahun 2009 silam. Bayangan akan pantai Bira seketika bergelayut di khayalan saya waktu itu dan langsung kuIYAkan ajakan bapak.

Entah kapan terakhir kali saya melakukan perjalanan berdua saja bersama bapak, yang jelas sudah sangat lamaaaaa sekali. Selama perjalanan perbincangan akan masa depanku menjadi porsi terbanyak. Mulai dari pendidikan S2, peluang kerja ke depan menjadi bahan bincangan kami. Sebenarnya ada yang kurang dari perbincangan soal masa depan saya yang ingin saya bicarakan yakni bahasan soal pernikahanku kelak. Tapi mungkin di lain kesempatan di perjalanan berikutnya dan cuma berdua saja bersama bapak. hehehe

Hujan gerimis mengguyur selama perjalanan, beberapa kali kami singgah di rumah temannya bapak. Mulai dari rumah seorang Kiyai Haji hingga rumah seorang Pendeta Kristiani. Acara singgah ini sebenarnya terkait bisnisnya bapak bersama teman-temannya. Jadilah acara perjalanan ini jadi perjalanan bisnis dan saya tidak tahu kalau sebenarnya acara perjalanan ini adalah acara bisnis. Saya juga tidak bertanya, kecewa tapi ya dinikmatin saja. #MaumiDiapa

Karena banyaknya urusan bisnis ditambah hujan yang semakin keras mengguyur, perjalanan ke Bulukumba diurungkan. Perjalanan kami hanya sampai di kabupaten Bantaeng, alhasil keliling kota Bantaeng jadi aktivitas sambil bapak bercerita soal pengalamannya di kabupaten Bantaeng sewaktu muda dulu. Di sini saya tahu kalau bapak dahulunya sekolah di Bantaeng sebagai alumni SPG Bantaeng yang kini bernama SMAN 2 Bantaeng. Kisah percintaannya bapak pun tak luput diceritakannya sambil menunjuk beberapa tempat di kota Bantaeng saat berkeliling. Beberapa cerita cinta bapak cukup menggelikan di telinga saya. Saya pun tahu kalau bapak dulu sewaktu muda adalah seorang PlayBoy kelas teri. Sering bergonta-ganti pacar, Soal bapak berkelahi, dan kejar-kejaran dengan musuh-musuhnya demi seorang cewek cukup membuat pipiku jadi sumringah mendengar kisah bapak dan ini sedikit mengobati kekecewaan batal ke Bulukumba.

Perjalanan keliling kota Bantaeng ditutup dengan menikmati kuliner Sop Sodara di salah satu rumah makan di pusat kota Bantaeng. Di luar rumah makan, hujan gerimis masih awet. Inilah perjalanan romantis buat seorang Bapak dan Anak, sebuah mozaik kehidupan yang sudah lama saya tidak lakukan. Rasa pening dan mual mulai menyerang, bapak pun menambah laju mobil bergegas pulang ke rumah.

Iklan

Responses

  1. ya enggaklahhh.. sy mau langsung nyari istri saja.. hehehe

    Suka

  2. Trus gelar playboy kelas teri nurun ke anaknya kah ?? 😆

    Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: