Oleh: akbarmangindara | 27 Desember 2013

“Coto Kuda” Pilihan Pas Di Kala Hujan

coto kuda

Desember  identik dengan hujan. Di penghujung akhir tahun ini hampir setiap hari hujan mengguyur tanah kelahiranku di Jeneponto yang dikenal sebagai tanah gersang. Hujan memang menjadi dambaan masyarakat yang ada di sini olehnya itu hujan di sini selalu membawa harapan, keceriaan dan kebahagiaan.

Ketika musim hujan seperti ini biasanya dibarengi dengan rasa lapar yang terus-terusan terjadi. Ini fisiologis bagi tubuh jika berada di cuaca dingin seperti ini. Kalau sudah seperti ini makanan akan jadi pelengkap untuk mengusir rasa dingin yang dibawa oleh hujan. Bila ke Jeneponto, salah satu pilihan makanannya adalah coto kuda.

Coto Kuda seperti namanya kuliner ini berbahan dasar daging kuda yang kemudian membedakannya dengan kuliner coto Makassar yang umumnya berbahan dasar daging sapi. Daging kuda memiliki tekstur daging yang lebih lembut dari daging sapi sehingga ketika masuk di mulut sangat enak mengunyahnya. Untuk bumbu dan segala jenis rempah-rempah yang digunakan pada dasarnya sama dengan coto Makassar yang biasa kita jumpai seperti bawang merah, bawang putih, irisan gula merah, daun serai, jahe, kayu manis dan kacang tanah goreng yang sudah dihaluskan.

Sejarah Coto Kuda

Konon dari sejarahnya, Coto Kuda pada awalnya hanya diperuntukkan untuk dihidangkan bagi Karaeng, yaitu sebutan raja atau bangsawan di Jeneponto.  Daging Kuda dipercaya dapat menambah vitalitas bagi yang memakannya. Coto kuda biasanya dihidangkan bersama dengan ketupat sayur dan bawang goreng.

Salah satu warung yang cukup terkenal ketika berkunjung ke Jeneponto yakni warung coto Turatea yang terletak di pertigaan Belokallong, Kecamatan Binamu. Bagi teman-teman yang penasaran dengan rasa coto kuda, saya sarankan mampir di warung ini. Semangkuk kecil coto kuda ini dihargai Rp 15.000/porsi. Setelah makan coto kuda dijamin rasa dingin yang ada di tubuh akan hilang. hehehe

Selain coto kuda masih ada beberapa kuliner khas Jeneponto yang berbahan dasar daging kuda seperti  Gantala dan konro kuda yang tentunya memiliki cita rasa yang tak kalah lezatnya dari Coto Kuda. Jadi, kapan makan coto kuda?

***

Tulisan ini juga dimuat di website Paling Indonesia

Iklan

Responses

  1. whuaaaa daging kuda?? ga kebayang dah

    Suka

    • kenapa? makanya cobain..

      Suka

      • ga pernah nemu daging kuda di bandung bar hihiy 😛

        Suka

        • Hayooo ke Makassar. nanti sy yg traktir berwisata kuliner.. hehehe

          Suka

          • I do if I’ve got a free ongkir anymore hehe

            Suka

  2. Mas, pesen coto kudanya satu, mas.

    Suka

    • hahaha, iya silahkan duduk manis dulu di meja nomer 7.. tunggu 5 menit ya.. hehehe

      Suka

  3. Wewww ?? makan kudaa ???

    Suka

    • kenapa? ada masalah dgn kuda??

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: