Oleh: akbarmangindara | 20 November 2013

Mengenang Korban 40.000 Jiwa Rakyat Sul-Sel

???????????????????????“Jangan Pernah Melupakan Sejarah”

Ada perasaan yang mendalam ketika menginjakkan kaki di kawasan Monumen 40.000 korban jiwa ini. Satu hal yang pasti di bawah tanah kawasan ini telah terkubur para pejuang dan rakyat sulawesi selatan.

Awal Desember Tahun 1946 hingga 1947 adalah sebuah masa yang sangat kelam bagi rakyat sulawesi selatan. sekitar 40.000 rakyat sul-sel kala itu harus meregang nyawa dalam sebuah aksi penumpasan pemberontak oleh para pasukan Belanda di bawah kepemimpinan kapten Raymond Westerling. Monumen korban 40.000 jiwa dibangun untuk menghormati mereka yang telah gugur di masa itu.

SAMSUNG CAMERA PICTURESSebuah patung besar setinggi sekitar 5 meter dengan kaki kiri dan lengan kanan buntung serta lengan kirinya menggunakan penyangga berdiri kokoh di samping pendopo. di sebelahnya terdapat tembok persegi panjang berbentuk peti mati dengan  relief di depannya yang menggambarkan rakyat Sul-Sel yang mendengar kemerdekaan Indonesia dikumpulkan di tanah terbuka lalu di berondong dengan peluru. Di sinilah salah satu tempat pembantaian para pejuang dan rakyat sul-sel yang dilakukan oleh Westerling. Kekejaman Westerling tidak hanya terjadi di tempat ini, pun tersebar  di luar Makassar  seperti Sidrap, Enrekang, Mandar, Bantaeng, Barru dan Pare-Pare.

28 tahun pasca peristiwa itu, pada tanggal 11 Desember 1974 Walikota Makassar kala itu A.M Dg Pattompo meresmikan monumen ini. Pun setiap tanggal 11 Desember oleh pemerintah kota Makassar dan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan dilakukan upacara di kawasan ini guna memperingati peritiwa pembantaian ini. Para veteran dan keluarga korban juga turut di undang dalam upacara.

???????????????????????Kawasan monumen korban 40.000 jiwa ini terletak di daerah Pongtiku tepatnya di jalan Langgau sekitar 150 meter dari jalan poros pongtiku. Oleh pemerintah kota Makassar, kawasan ini telah dijadikan kawasan obyek wisata sejarah dan budaya. Meski begitu, kawasan ini tak pernah ramai di kunjungi. Bahkan banyak warga sekitar yang bermukim di sana tidak tahu mengapa bangunan itu ada. Puluhan Desember telah berlalu dan tampaknya orang-orang tak mau lagi peduli dan tak mau tahu tentang tragedi pembantaian Westerling dan pasukannya itu.

Iklan

Responses

  1. mirip kamboja ya, informatif sekali, sukses bar 🙂

    Suka

    • kapan2 agendakan buat ke Makassar lah…

      Suka

      • kalau ada rejeki insya allah pengen banget asli bar 🙂

        Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: