Oleh: akbarmangindara | 15 September 2013

Kenapa pindah kampus?

Move

Banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman ketika saya membuat sebuah keputusan di tahun 2009 untuk meninggalkan kampus lama saya ke kampus baru. Dari Universitas Negeri Makassar ke Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Dari jurusan Pendidikan Ekonomi Bisnis ke jurusan Keperawatan. Awalnya tidak mudah, terlebih saya sudah sangat akrab dengan teman-teman yang ada disana. Saya juga sangat senang dengan salah satu organisasi kemahasiswaan yang saya masuki yakni LPM Penalaran UNM. Honestly, ini adalah sebuah keputusan berat. Banyak pertimbangan di otakku yang mengayung-ayung di kepala. Kenapa saya pindah, inilah alasannya:

1. Keuangan

Terus terang, saya masuk di Universitas Negeri Makassar pada tahun 2008 dengan jalur ujian tulis lokal, sekarang disebut jalur mandiri. Setelah mengikuti ujian tulis, wawancara, dinyatakan lulus dan membayar uang masuk (DPP+SPP Semester 1) sekitar 5,7 Juta barulah kemudian saya berhak mendapatkan satu kursi di kampus Universitas Negeri Makassar. 5,7 Juta mungkin bagi sebagian orang hanya jumlah sedikit, tapi bagi saya itu jumlah yang sangat besar mengingat pekerjaan orang tua saya yang hanya seorang guru sekolah dasar yang harus membiayai tiga orang anaknya kuliah. SPP yang saya bayarkan 4 kali lipat besarnya dari teman-teman yang lulus dari jalur yang lainnya. Awalnya ada keinginan untuk langsung berhenti saja setelah melewati 1 semester dan menunggu pendaftaran SNMPTN selanjutnya tapi bapak pada waktu itu tetap kukuh untuk saya melanjutkan sampai setahun. Saya harus tetap kuliah di UNM sampai ada pengumuman hasil SNMPTN keluar. Alhasil saya dinyatakan lulus di keperawatan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Saya meninggalkan kampus Universitas Negeri Makassar dengan IPK 4,0.

2. Di Panggil “Anak UTUL”

Teman-teman mahasiswa yang lulus lewat jalur ujian tulis lokal, dari senior dan teman-teman seangkatan yang tidak melewati jalur ini memanggil kami “anak UTUL”. Sebuah panggilan yang menurut saya sangat diskriminasi dan mengundang kedengkian. Pandangannya terhadap “Anak Utul” itu terlihat seperti Anak orang kaya yang ngamburin uang untuk masuk kampus yang karena ketololannya tidak lulus SNMPTN. Terlebih lagi kampus memperlakukan kami dengan sangat eksklusif di kelas yang sangat eksklusif pula. Saya tidak senang dengan perlakuan seperti ini karena ini terlihat pengkotak-kotakkan antara si kaya dan si miskin. Saya ingin diperlakukan sewajarnya, sama seperti mahasiswa yang lainnya.

3. Takdir

Saya salah satu orang yang meyakini kalimat “Kalau Jodoh Tak lari Kemana”. Sebenarnya pada SNMPTN 2009 saya mengambil paket IPC dimana kita bisa memilih 3 pilihan jurusan yang diiginkan. Pada waktu itu saya memilih 2 jurusan di Universitas negeri Makassar yakni Manajemen dan Matematika murni dan jurusan keperawatan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Pada waktu itu saya sangat yakin tetap akan lulus di Universitas Negeri Makassar tapi takdir berkata lain, saya harus mengucapkan selamat tinggal kepada kampus UNM. Kita bukanlah jodoh karena UNM tidak bisa saya nikahi. hehehe

Keputusan adalah keputusan. Setelah keluar dari UNM banyak yang memanggil saya orang yang berpendirian labil. Pun banyak cap “penghianat UNM” yang beberapa kali di alamatkan ke saya. Ini memang pantas di alamatkan ke saya dan saya terima itu. Saya belajar banyak hal dari UNM tapi setelah itu pergi. Inilah salah satu titik dalam kehidupan saya yang cukup memberikan saya pelajaran berharga, sebuah pelajaran tentang pendewasaan kehidupan. Saya menikmati setiap oase-oase kehidupan yang saya lalui beserta lika-likunya.

***

Iklan

Responses

  1. Emang bisa pindah Univ dan beda jurusan pula pas pindah univ-nya dari PTN Asal ke PTN lainny? Gimana caranya tuh? Saya jg mau renana oindah nnih.. Asal Untirta angkatan 2013..

    Suka

    • kalau saya pindahnya memang karena daftar kembali SBMPTN dan lulus lagi.. 🙂

      Suka

  2. Saya juga punya senior yang sudah 3 tahun kuliah di ITB, lalu pindah ke kampus saya Unisba dan ngambil psikologi. Ya kalau di bandingin jelas jauh banget sama ITB, tapi dia tetap ingin masuk psikologi Unisba dengan serius. Alasan nya ya mungkin gak jauh beda sama yang kamu alami. Tapi yang jelas, saya sih cukup salut sama orang2 yang kaya gitu. Berani mengambil keputusan, juga gak lupa berani bertanggung jawab dengan jurusan yang udah dipilih nya 😀

    Suka

    • Life is choice. Supaya ga terjadi labil ekonomi dan kontroversi hati..

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: