Oleh: akbarmangindara | 4 September 2013

Jalan-Jalan di Kawasan Rumah Adat Atakkae, Wajo

Rumah adat atakkae wajo

Istana Tenribali

Daerah Sulawesi Selatan memiliki banyak tempat menarik yang bisa dijadikan referensi bagi teman-teman sekalian untuk dikunjungi di kala waktu liburan datang. Kali ini saya mau share tentang salah satu kawasan budaya di Kabupaten Wajo.

Wajo selain dikenal sebagai daerah penghasil Sutra terbaik di Sul-Sel juga memiliki banyak tempat wisata yang menarik salah satunya adalah kawasan budaya Rumah Adat Atakkae. Kawasan ini seperti Taman Mini Indonesia Indah tapi versi kabupatennya.

Ini pengalaman tahun 2009 silam. Siang itu, matahari lagi terik-teriknya di kota Sengkang. Perjalanan kali ini dalam rangka mengikuti ajakan salah seorang teman yang lagi dapat pekerjaan di daerah ini. Seperti pepatah sambil menyelam minum air, itulah yang kami lakukan. Setelah menyelesaikan segala pekerjaan di kota ini, kami pun travelling mengunjungi tempat-tempat menarik di kota ini salah satunya kawasan rumah adat Atakkae.

Dari masjid raya kota Sengkang, kami menaiki becak motor (Bentor) menuju kawasan budaya rumah adat Atakkae ini. Jaraknya sekitar 3 KM dari pusat kota. Salah seorang teman yang bermukim di sini menjadi pemandu wisata kami selama di sini. Darinyalah kami mendapatkan informasi tentang lokasi wisata ini.

Memasuki kawasan wisata ini sangat terjangkau, waktu itu kalau tidak salah ingat kami cuma bayar RP 2000/orang. Kawasan budaya rumah adat atakkae ini terletak di kelurahan Atakkae kecamatan tempe. Kawasan rumah adat ini di bangun pada tahun 1995 di pinggir danau lampulung. Di dalam kawasan ini telah dibangun puluhan duplikat rumah adat tradisional yang dihimpun dari berbagai kecamatan di kabupaten Wajo.

Ketika datang di tempat ini, kawasan ini terlihat begitu sepi. Beberapa ekor anjing dan kambing terlihat asyik berkeliaran di tempat ini. Dari teman yang memandu wisata, kami mendapat informasi kalau kawasan ini sudah tidak seramai dulu lagi.

Dari semua rumah adat yang dibangun di sini, ada satu rumah adat yang sangat menarik perhatian kami. Rumah adat yang cukup besar yang dijuluki Saoraja atau istana Tenribali, salah seorang matoa wajo. Rumah adat ini berada tepat di samping danau Lumpulung.

Rumah adat ini memiliki tiang sebanyak 101 buah. Setiap tiang beratnya 2 ton yang terbuat dari kayu ulin yang berasal dari kalimantan. Tiang itu didirikan dengan menggunakan alat berat (eskavator). Lingkaran tiang rumah 1,45 meter dengan garis tengah 0,45 meter dan tinggi tiang dari tanah ke loteng 8,10 meter. Bangunan rumah adat ini mempunyai ukuran panjang 42,20 meter, lebar 21 meter dan tinggi bubungan 15 meter.

Tidak ada keunikan lain selain ukuran rumah adat ini yang cukup besar. Di dalam rumah adat ini terlihat kosong, tak kami jumpai benda-benda pameran seperti Rumah adat di daerah lain yang  pernah kami kunjungi yang telah banyak dijadikan sebagai museum. Dari jendela rumah adat ini, kami menatap danau Lumpulung. Kondisinya memprihatinkan karena tanaman Eceng gondok menutupi sebagian besar danau ini.

Kurang lebih 2 jam kami menghabiskan waktu berkeliling di kawasan budaya rumah adat Atakkae ini sebelum akhirnya kembali ke kota Senkang. Perjalanan yang cukup menyenangkan. Semoga bisa menjadi referensi tempat wisata ketika teman-teman berkunjung ke kabupaten Wajo.

Iklan

Responses

  1. keren-keren, sayang fotonya kurang banyak bar

    Suka

    • tinggal ini foto yg tersisa. foto yg lainnya entah dimana sudah 4 tahun soalnya..

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: