Oleh: akbarmangindara | 28 Agustus 2013

Cerita Bersama Kartu AS Telkomsel

Kartu As

Saya salah satu pengguna kartu AS Telkomsel. Kurang lebih 6 tahun lamanya saya menggunakan kartu ini. Mungkin kalau diibaratkan manusia, dia sudah besar, tingginya mungkin kurang lebih 130 cm, sudah bisa masuk sekolah dasar.  Tapi ya gitu deh, sampai sekarang ukurannya tetap seperti itu, 2×1 cm berkulit putih dengan beberapa tato angka di badannya. Ada banyak cerita bersama kartu AS Telkomsel, kenapa kemudian sampai sekarang saya masih setia dengan kartu As pun dengan nomer yang sama.

Alasan 1: Pertama kali berjumpa dengan Kartu AS ini di salah satu toko berjarak sekitar 300 meter dari rumah, serasa dia memanggil-manggil namaku “Belihhhh akuhhhh Belihhhhh Akuhhhhhh”. Akhirnya dengan secara tidak sadar aku pun membelinya. Harganya sekitar 10000 ribu waktu itu. Pun kalau tidak salah ingat emang kartu perdana yang dijual waktu itu, yang berlogo telkomsel tinggal satu-satunya adalah Nomer Kartu AS yang saya pakai sampai sekarang.

Alasan 2 : Saya masih percaya dengan motto yang saya pegang sewaktu SD dulu “One By One”. Motto ini awalnya pun cuma ikut-ikutan teman di SD dulu pas zaman kertas orgi sangat populer, dan kita sebagai anak SD waktu itu sangat gemar menuliskan biodata di kertas orgi kemudian saling bertukar biodata sama teman yang lainnya. Nah, teman-teman pada menulis motto dengan tulisan “one by one”. Saya tidak tahu apa maksudnya dulu dan saya tuliskan saja. Motto ini rupanya masih tersimpan di memori otak kecilku sampai sekarang. Saya mulai paham artinya, dan itu adalah “SETIA”.

Alasan 3 : Saya tinggal dekat pesisir pantai. 6 tahun yang lalu, di kampung saya di Kabupaten Jeneponto namanya, tepatnya di Kelurahan Pabiringa,  cuma signal jaringan Telkomsel yang ada. Pun signalnya masih sering hilang. Kalau di dalam rumah, ada satu tempat yang cukup kuat jaringan telkomselnya dan itu adalah samping pintu rumah bagian depan dekat rak sepatu. Bisa kebayang setiap kali saya mau telponan dan smsan sama teman-teman saya juga harus bertarung dengan hidung untuk membiasakannya membaui aroma sepatu dan kaos kaki yang ada di sana. Sampai sekarang setiap kali pulang ke kampung halaman pasti nongkrongnya dekat tempat itu, ya tidak dekat-dekat amat juga.

Alasan 4: Sudah berkali-kali saya kehilangan ponsel. Namanya kehilangan ponsel kartunya juga ikutan ngilang. Saya percaya bahwa barang yang hilang jika benar-benar milik kita, maka itu akan kembali ke diri kita lagi. Dan sampai hari ini semua Ponsel yang hilang belum pernah kembali. #HadeuhhhNgarep. karena kejadian kehilangan ponsel beberapa kali, akhirnya pun beberapa kali pula saya harus bolak-balik ke grapari Telkomsel di Graha Pena Makassar untuk ngurus Kartu AS telkomsel yang hilang dan kembali membuatnya kembali menjadi milikku. Sekali lagi seperti alasan pertama “Setia”. Terlebih lagi nomer ini sudah sangat melekat sama teman-teman dekat. Kalau mau ngehubungin saya pasti ke nomer AS saya.

Alasan 5: Alasan lain yang saya tidak bisa sebutkan satu persatu.

Ini ceritaku, mana ceritamu?

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: