Oleh: akbarmangindara | 15 Agustus 2013

Makna Sebuah Koin, Dulu dan Sekarang!

koin

Pernahkah kalian mengenal sebuah masa dimana ketika kita mendapatkan koin di jalan terasa begitu sangat membahagiakan?

Kawan, saya memiliki banyak pengalaman dengan yang namanya koin. Buat saya koin memiliki kenangan tersendiri. Ya, karena Koin memiliki cerita banyak rasa walaupun saya belum pernah mencobanya seperti kakak saya yang punya kisah tragis nelan koin 50 rupiah waktu kecil dulu.

Masa kecil saya boleh dikatakan cukup bahagia. Saya termasuk generasi tahun 1990-an karena saya lahir di tahun 90, sebuah generasi yang menurut saya sangat komplit. Masa anak-anak penuh cerita manis, lagu anak-anak sangat trend buat anak-anak sebaya saya dulu. Trio kwek-kwek, Sherina, Cikita, Meissi Ci Luk Ba menjadi idola anak-anak pada waktu itu tentunya dengan lagu anak-anak pula yang dibawakannya. Beda banget anak-anak sekarang, anak-anak SD tapi hapalnya lagu “Hamil Duluan Sudah Tiga Bulan”.

Tahun 90-an adalah masa dimana Telpon Koin masih jaya-jayanya, masa dimana dengan uang koin RP100 saya sudah bisa membeli bakwan goreng 4 buah dengan harga 25 rupiah, dan masa dimana uang koin memiliki kejayaan tersendiri, dihormati dan dihargai sebagai sebuah nilai.

Saya masuk Sekolah dasar tahun 1996. Saya masih ingat uang jajan saya waktu itu 500 rupiah kalau sekarang mungkin setara 5000 rupiah.  Dengan uang itu bagi anak-anak seusia saya sudah bisa membeli segalanya walaupun yang dibelanjakan selalu lebih besar dari jumlahnya sehingga selalu ngutang di kantin sekolah. Tapi ya, bahagianya selalu minta ampun.

Ada 1 kebiasaan sewaktu SD yang masih terkenang sampai sekarang. Setiap kali melihat Telpon umum, saya selalu mengecek tempat koin keluar atau meraba bagian atas telponnya. Beberapa kali saya mendapatkan recehan koin disana. Kalau dapat itu senangnya bukan main. Atau kalau lagi nakal-nakalnya kalau tidak mendapatkan koin di dua bagian telpon umum itu, saya tinju telpon umumnya berharap koin yang ada di dalamnya keluar, tapi ya selalu tidak pernah berhasil.

Saya pun suka mengerjai adikku dengan koinnya. Untuk mendapatkan koin adikku tidak mungkinlah saya merampasnya tiba-tiba. Pasti akan langsung nangis kalau saya ambil secara paksa, makanya pakai strategi. Waktu kecil dulu saya selalu temani adikku main. Paling senang main tanah samping rumah karena disitu saya bisa bermain “mengubur koin”. Alhasil dengan permainan itu saya selalu bisa mengambil koin darinya tanpa membuatnya menangis. Hehehe

***

Koin sekarang seperti kehilangan jati dirinya. Beberapa kali saya melihat, ketika ada orang yang koinnya terjatuh dari saku atau dompetnya tidak pernah dipungut kembali. Apalagi kalau koinnya cuma 100 rupiah, seperti tidak ada nilainya lagi. Orang-orang mulai malu memungut koin.

H+2 setelah lebaran dan sebelum saya berangkat ke Makassar, saya menyuruh adik saya untuk membeli Mie Goreng di warung depan rumah. Untunglah banyak koin berserakan di tempat tidur yang sudah tidak dilirik. Penuh usam dan kusam. Saya mengambil 4 koin 500 rupiah untuk beli Mie Goreng yang harganya 2000 rupiah. Ketika saya memberikan uang koin itu adikku menolak dan mengatakan bahwa uang koin sudah tidak dipakai lagi.

Saya cukup lama berdebat dengan adikku. Menjelaskan bahwa koin masih bernilai dan bisa dibelanjakan. Saya tahu dia cuma malu untuk berbelanja dengan menggunakan uang koin hingga akhirnya ibu datang dan mengambil uang koin dari tanganku lalu ia yang pergi membeli mie gorengnya #tertundukLesuh.

***

Sebenarnya masih banyak cerita tentang koin dalam memori otak kecil saya. Tapi masih di simpan-simpan untuk cerita berikutnya. Sampai sekarang saya memiliki 1 kebiasaan dari kecil yang belum pernah hilang yakni jadi “Tukang Pungut Koin“. Bedanya dulu, hanya orang yang beruntung yang bisa mendapatkan koin di jalan. Sekarang, hampir setiap hari saya bisa mendapatkan koin dengan mudahnya ketika saya berjalan-jalan. Rasanya begitu beda!!!

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: