Oleh: akbarmangindara | 12 Agustus 2013

Jangan Ragu Jadi Perawat

men nursing

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah catatan dari seorang perawat di grup facebook Ikatan Mahasiswa Ilmu keperawatan Indonesia.  Sebuah catatan yang menurut saya yang sungguh menggugah hati bagi rekan-rekan perawat di tengah banyaknya masyarakat yang memandang profesi ini dengan sebelah mata.

Tulisan dari Ns “Imelda yanti Darius”:

Sudah tak asing lagi mendengar lontaran kalimat : “kok cuma jadi perawat sih, kenapa ga jadi dokter?”, “Dari dulu kok masih jadi perawat aja, kapan jadi bidannya?”,”sekolah lagi donk. biar jadi dokter!”,”perawat itu pembantu dokter!” dan masih banyak bentuk kalimat yang similar dan pastinya juga dijumpai rekan-rekan perawat setanah air.
So. apa yang kita lakukan? marah? kesal? uring-uringan? itu manusiawi..! Sikap terbaik saat mendengar kalimat tersebut… senyumlah.. karena dengan senyum ketegangan otot dan suasana menjadi kendor. Lalu apa lagi? jelaskan dengan perlahan… tegas..dan syarat dengan rasa bangga: Perawat adalah suatu profesi. sama halnya dengan dokter, bidan, pilot, de el el. Jadi tidak bisa nabrak-nabrak. sekolahnya sampai S3, tetap ilmu keperawatan meski diajarkan semua bidang ilmu kesehatan: ilmunya dokter, ilmunya apoteker, ilmunya analis kesehatan, ilmunya radiologist, ilmunya fisioterapist, manajemen, sehingga justru keperawatan lebih unggul dari profesi kesehatan lainnya.
Dokter punya spesialis, perawat juga punya. Sayangnya bidan cuma mentok di D3. So. Apakah bidan lebih tinggi dari perawat? apakah dokter lebih tinggi dari perawat? “Tapi perawat kerjanya ganti pampers,bersihin pup, mandiin..?” Lho..salahkah? seorang ibu memandikan anaknya, mengganti pampersnya, mencebokinya…apakah ini membuat sang ibu menjadi rendah? Perawat memiliki badan ilmu yang tidak hanya berfokus pada penyakit. tapi biopsikososiospiritual. sangat care dengan kebutuhan pasiennya. Mengurusi pasien dari yang baru hadir ke dunia sampai yang meninggalkan dunia, yang sakit dan yang sehat, setia saat sang pasien ditelantarkan keluarganya. Lalu apa yang membuatnya menjadi rendah??? Gaji perawat lebih rendah dari dokter??? Bila membandingkan harus pada level yang sama dong! Kalau perawat di pelosok, bandingkan juga dengan tenaga medis lain di pelosok.
Alhamdulillaah, di tempat saya bekerja gaji perawat S1 lebih tinggi dari dokter S1. Mereka keberatan, demo tapi apa yang dituntut? Pimpinan setuju bahwa perawat yang lebih berisiko terpapar, berhak akan penghasilan ini. Pimpinan menyadari bahwasanya pekerjaan perawat jauh lebih banyak bahkan beban kerjanya jauh lebih tinggi, sehingga wajar bila remunerasi lebih tinggi. Di tempat anda belum seperti ini? ayo perjuangkan..!!
Saat dinas di ruang VIP, hampir bosan saya menjelaskan tapi ya tidak boleh bosan untuk buka mata dunia: “ini loch “perawat!” Maka lihatlah, merekapun terpana. Hampir setiap orang yang saya jelaskan terpesona: “Ooooo..perawat hebat ya! Tak sedikit pasien atau keluarganya memanggil saya dengan sebutan “dokter”, saat diluruskan “Saya bukan dokter, saya perawat!” mereka berkata:”tapi suster lebih pantes jadi dokter, suster lebih pintar dari dokter!” Lalu saya jawab:”oleh sebab saya lebih pinter dari dokter ga mungkin dong saya dokter, saya perawat! perawat diajarkan lebih banyak hal daripada dokter! jadi bukan hal aneh kalau kami lebih pintar!”
Tulisan ini saya persembahkan khusus tuk para junior. semoga dapat menginspirasi. Jangan ragu tuk jelaskan “kehebatan” profesi kita. Luruskan dengan penuh kebanggaan! Tentunya kita harus terus menerus meningkatkan kemampuan kognitif, psikomotor, dan hubungan interpersonal kita supaya memang layak untuk dibanggakan. Kita belajar komunikasi terapeutik, sedang profesi kesehatan yang lain komunikasi asertif saja tidak disentuh. So, manfaatkan semua keunggulan kurikulum kita dan buat dunia ternganga dan berujar: “Oooooo…jadi saya selama ini salah mempersepsikan perawat!” Ayo..lanjutkan perjuangan kita..jangan bersedih hati dan jangan sampai putus asa..! Buktikan Firman Allah: “…boleh jadi orang yang diolok-olok lebih tinggi dari yang mengolok-olok” (maaf..ayatnya lupa).. Salaam.. Enjoy Nursing!!!

Catatan di atas membuat saya sadar. Saya pun awalnya juga demikian, sering saya bertanya dalam hati kenapa saya harus berada di jurusan ini sekarang. Dari kecil saya bercita-cita menjadi seorang dokter. Saya kemudian mendaftar fakultas kedokteran dan gagal. Hal ini Sempat membuat saya cukup depresi dan tidak mau kuliah lagi. Cita-cita saya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar tidak kesampaian.

Saya kemudian menerima saran dari bapak untuk kemudian mendaftar di tempat lain. saat it Universitas Negeri Makassar membuka jurusan baru untuk angkatan pertana dengan jalur ujian tulis di fakultas Ekonomi jurusan Ekonomi Bisnis. Satu tahun yang cukup menyenangkan. Saya lalu mengalihkan kesedihan saya dengan kesibukan organisasi dan aktivitas kuliah. Di  tahun selanjutnya saya kembali mendaftar di SNMPTN, tapi kekecewaan akibat tidak lulus di fakultas kedokteran masih menghantui, hingga kemudian saya alihkan untuk mengambil jurusan keperawatan di UIN Alauddin Makassar (menerima saran dari ibu) dan ternyata lulus. Yahhh, pada awalnya saya tidak senang dengan kelulusan ini. Lambat laun nasib berkata lain, saya mulai menyenangi dunia baru ini walaupun agak terlambat di semester-semester akhir. 

Saat ini saya masih berstatus mahasiswa semester akhir yang sementara bertarung dengan penyelesaian studi S1. Kecintaan saya kepada dunia keperawatan pun muncul perlahan-lahan. Saya mulai gila membaca buku-buku keperawatan untuk mengejar ketertinggalanku Meskipun kelihatannya telat, tapi saya mulai bersyukur bisa berada di jurusan ini. Ketika dinas praktik klinik di rumah sakit pertama kali, pasien memanggil saya dengan sebutan dokter. Pada awalnya saya merasa cukup bangga. Hal itu berarti secara pribadi pengakuan bahwa tingkat pengetahuan kita tidak kalah dengan dokter. Tapi lambat laun saya menyadari dan meluruskan kepada pasien-pasien yang memanggil saya dokter untuk memanggil saya “Ners”.

Secara prestasi, profesi perawat tak kalah dengan profesi kesehatan lain. Perawat-perawat Indonesia yang berprestasi baik di dalam negeri maupun di luar negeri sekarang sangatlah banyak. Mereka di akui karena mereka adalah perawat. Saya yakin kita semua juga bisa. Perawat hari ini adalah garda terdepan dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Mari mulai berbenah diri, jaga citra diri sebagai seorang perawat yang baik dan belajar lagi lebih banyak, buktikan bahwa perawat hari ini bukan lagi seperti perawat yang dulu-dulu. Banggalah dengan profesi dan buang segala keraguan. Jadi jangan  ragu lagi jadi perawat!

 

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: