Oleh: akbarmangindara | 2 Agustus 2013

Cemas, Ujian, dan Kemaknaan Surat Ar-Rad Ayat 13

anxiety

1 Agustus 2013

Pukul 14.00 harusnya seminar hasil penelitianku sudah dimulai tapi “lagi” kembali budaya “ngaret waktu” yang berkuasa. 30 menit waktu telat dan itu cukup membuat kortisol di dalam darahku meningkat.

Salah seorang teman (baca: ramla) melihatku begitu gugup menghadapi ujian. Lagi saya tegaskan saya gugup bukan karena ujian. Saya selalu khawatir membuat orang menunggu. Pembimbing saya sudah datang tepat waktu dan lagi seperti di ujian proposal sebelumnya, kembali harus saya tolerir ketidaksiplinan waktu penguji hasil penelitianku.

Saya adalah orang yang selalu berdisiplin waktu makanya ketika teman melihatku begitu gugup menghadapi ujian itu salah. Saya sudah siap lahir bathin dengan apapun yang terjadi pada seminar hasilku. Tapi soal “ngaret waktu” masih butuh proses adaptasi bagi pikiran dan tubuhku untuk menerima itu.

Kembali ke kortisol. Kortisol sendiri adalah salah satu hormon stress dalam tubuh. Ketika cemas maka itu bisa membuat beberapa reaksi pada tubuh. Bagi yang sudah pernah melihat film “Iron Man 3”, dalam beberapa adegan terlihat Tony Stark sang Iron Man mengalami kecemasan berat dalam menghadapi musuh-musuhnya yang mudian kemembuat kondisi tubuhnya menjadi tidak stabil.

Ketertarikanku pada kecemasan ini kemudian saya angkat dalam penelitian yang baru saja saya seminarkan. Kecemasan yang saya angkat adalah kecemasan pada pasien luka diabetik di salah satu rumah sakit di Kota Makassar. Banyak pembelajaran yang saya dapatkan selama melakukan penelitian ini. Salah satunya adalah untuk senantiasa bersikap sabar dalam menghadapi setiap cobaan.

Solusi untuk kecemasan saya integrasikan dengan salah satu ayat AL-Qur’an yakni surah Ar-Rad ayat 13 yang diterjemahkan “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram“. Makanya setiap kali cemas melanda, banyak-banyak berdzikir atau sholat.

Kecemasan sebenarnya adalah salah satu reaksi fisiologis tubuh tapi jika itu berlebihan, itu tidak baik juga bagi tubuh. Begitu pula dengan orang yang mengalami luka, ketika cemas maka itu akan mengganggu proses penyembuhan lukanya. Makanya setiap kali saya bertemu dengan pasien saya selalu berusaha membuat guratan senyum di pipinya dengan beberapa candaan ringan.

Iklan

Responses

  1. semangat semangat, betul sekali hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang 🙂

    Suka

    • Yappp!!! Salam kenal ya.

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: