Oleh: akbarmangindara | 4 Februari 2013

Kena Tilang

1 Februari 2013, untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, saya duduk di depan hakim menerima keputusan hukuman akibat melanggar lalu lintas, menerobos lampu merah.  100.1000 rupiah denda yang saya harus bayarkan. Tidak masalah, jadi sebuah pengalaman yang menarik buat saya.

Waktu itu pagi sekitar pukul 08.00, 2 minggu sebelumnya. Waktu itu kebetulan saya menginap di sekretariat organisasiku yang saya sebut sebagai markas, dan sementara menuju rumah yang di samata, Gowa. Tiba di ujung jl.Pettarani saya sebenarnya melihat lampu lalu lintas sudah nampak berwarna merah tapi ada sekitar 5 Kendaraan di depan saya yang tidak berhenti dan gilanya saya mengikuti kegilaan para penerobos lampu merah itu. Apes atau sial, dari semua penerobos lampu merah, cuma saya doang yang dicegat sama polisi lalu lintas. Menyebalkan bukan main!

Pak Supardi Menulis Surat Tilang

Pak Supardi Menulis Surat Tilang

Dan tibalah saatnya pak polis mengeluarkan senjata andalannya. Nama polisinya kalau tidak salah ingat pak Supardi. Dia bilang gini:
Pak Polis: “Kamu saya tilang, mana SIM sama STNKmu? sudah tahu lampu merah masih saja terobos, dimana mata kamu?”
Saya jawab “di depan pak mata saya, sorry pak tadi agak melamun tidak lihat lampu merah cuma lihat kendaraan di depan saya.” Saya coba mengelak waktu itu sambil ngeluarin dompet dan memberikan STNK sama SIM dengan polosnya.
Pak Polis: “Jadi sekarang bagaimana, apa maumu? Mau atur damai? Kasi 200 ribu cepat.”
Saya jawab, tidak cukup uangku pak kalau bayar segitu.
Pak Polis: Ya sudah bayar 100 ribu saja cepat. Pak polisinya mulai tawar menawar sama saya.
Saya jawab lagi tidak cukup pak uangku. Ini saja masih nunggu kiriman ortu di kampung. Masih mencoba mengelak. #NasibMahasiswa.
Pak Polis: Kamu tinggal dimana? Kamu pinjam dululah sama temanmu atau siapamu! Saya tunggu di sini sebelum saya tulis surat tilangmu.
Saya di samata pak. OK pak, saya ke teman dulu pinjam uang.

Isi dompet sebenarnya masih punya cost sekitar 250 ribu. 125 buat bayar buku, sisanya untuk makan dan beli bensin. Masih ada juga cost di ATM yang belum saya ambil.

Saya putuskan untuk pergi dulu sejenak sebelum terlibat dalam persekongkolan dosa yang lebih besar. Saya putari alauddin dan mannuruki sambil merenung, “benarkah apa yang saya lakukan?” Ini yang kedua kalinya saya melanggar setelah kasus dillarang membelok kanan di depan Hotel Sahid Makassar dan kejadian yang sama polisi tawar menawar dan saya bayar 30 rebu untuk atur damai katanya.

Di perjalananku sekitar jalan alauddin dan mannuruki terjadi pergolakan batin dan pikiran yang cukup alot. dan di jalan mannuruki 2 depan kuburan akhirnya saya putuskan untuk ditilang dan menjalani sidang. Ini kesalahan saya menerobos lampu merah dan saya harus bertanggung jawab. Dipikiranku lagi, kasihan anak sama istrinya makan uang haram lagi kalau saya kasi uang damai (sogokan) kepada polisinya. Cukup 1 kali saja saya melakukan hal demikian, pikirku.

Saya kemudian kembali ke tempat pak polisi tadi. Tiba di tempat ternyata polisinya dapat satu mangsa lagi, dan seperti yang terjadi padaku sebelumnya, terjadi transaksi tawar menawar antara polisi dan calon yang akan ditilang. 200 rebu, 100 rebu.

Saya bilang ke pak polisnya kayak gini, “Pak, saya minta surat tilangnya, saya tidak dapat pinjaman dari teman.” Wajah polisnya langsung nampak kecewa setelah saya bilang kayak gitu.
Pak polis: jadi, saya tuliskanmi tilangmu ini.
Iya pak. Kasi saja saya surat tilangnya. Nanti saya selesaikan di pengadilan. Saya lanjut lagi ngomong, “Pak, itu SIM sama STNK mau disita dua-duanya?”
Pak polis: iya
Satu saja pak, saya ambil SIM dan STNK silahkan disita sebagai jaminan. Lanjutku, sambil tawar menawar lagi sama pak polisnya.
Pak Polis: kamu nanti ikut sidangnya tanggal 1 Februari dipengadilan 1 Makassar yang dikarebosi. Kamu selesaikan disana. Sambil nyodorin SIM sama Surat tilang berwarna merah.
Saya cek baik-baik surat tilangnya dan ternyata ada yang salah. Saya protes “Pak motor saya mereknya Honda, kenapa ditulis suzuki?”
Pak Polis: samaji, tidak berpengaruhji
Saya jawab “Oh Pale'”

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: