Oleh: akbarmangindara | 21 Januari 2013

Mewaspadai Leptospirosis Setelah Banjir

Musim hujan kali ini telah menimbulkan banjir di banyak tempat. Bahkan Jakarta sempat lumpuh oleh banjir. Kondisi semacam ini tidak hanya mengakibatkan kerugian harta benda, tetapi juga segera disusul berjangkitnya beberapa macam penyakit.

Diare dan gatal-gatal karena penyakit kulit memang paling banyak diderita masyarakat yang daerahnya kebanjiran atau tergenang air. Namun, ada satu penyakit yang perlu diwaspadai pascabanjir, yaitu leptospirosis. Penyakit pada hewan yang dapat berjangkit pada manusia (zoonosis) ini bahkan jarang disadari oleh penderita sendiri.

Leptospirosis

Penyakit ini mula-mula dilaporkan oleh Adolf Weil pada tahun 1886, yakni adanya penyakit dengan gejala panas tinggi disertai beberapa gejala saraf, pembesaran hati dan limpa. waktu itu penyebabnya belum diketahui. Barulah 30 tahun kemudian, Inado dan Ito di Jepang seta Hubener dan Reiter di Jerman, menemukan penyebabnya, yaitu leptospira, sejenis microorganisme dari golongan bakteri dan hanya dapat dilihat menggunakan microskop lapangan gelap.

Di musim hujan, terutama pascabanjir, adanya gejala demam, sakit kepala, menggigil, lemah, muntah, disertai nyeri otot terutama betis, perlu diwaspadai kemungkinan berjangkitnya penyakit ini.

Sebenarnya leptospirosis adalah penyakit pada binatang, sebagaimana antraks. Namun dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat ditularkan pada manusia. Meskipun demikian tetap juga berbahaya sebagaimana penyakit-penyakit lain yang menyerang manusia, terutama mengenai beberapa organ dalam yang vital. Lebih-lebih penyakit ini disertai gejala dan tanda yang tidak berbeda dengan penyakit pada manusia, sehingga sering menimbulakan kekeliruan.

Infeksi leptospira pada manusia merupakan kejadian yang bersifat insidental. Penyakit leptospirosis justru sebenarnya khas terdapat pada binatang seperti anjing, kucing, kambing, babi, binatang pengerat terutama tikus. Dalam hal ini infeksi terjadi karena kontak dengan kulit, terutama kulit yang luka atau lecet. Misalnya sewaktu membersihkan saluran air, mencebur di genangan air, tanah lembab atatu lumpur serta tanaman yang tercemar air kencing binatang yang mengandung bakteri tadi.

Leptospira dikeluarkan bersama tinja dan air kencing binatang tersebut, Namun demikian, bakteri ini dapat hidup dan bertahan di alam luar, baik di tanah maupun air, samapai beberapa minggu lamanya. Lama bertahan bisa lebih panjang lagi, jika keasaman tanah maupun air serta suhu sekitar sesuai bagi bakteri ini.

Takut Sinar

Masa inkubasi penyakit ini, yakni sejak manusia terinfeksi leptospira sampai timbulnya gejala pertama, umumnya berkisar antara 14-19 hari, dengan rata-rata 10 hari. Serangannya bersifat mendadak (akut). Dimulai dengan kelemahan, demam tinggi, rasa “takut sinar” atau merasa nyeri bila melihat sinar.

Gejala yang khas pada penyakit ini yaitu timbulnya rasa nyeri pada otot, terutama otot betis. Apabila dipegang, otot betis terasa nyeri sekali. Demikian pula pada otot-otot lain, biasanya otot-otot punggung bagian bawah dan otot-otot paha juga terasa nyeri. Gejala demikian biasanya juga bercampur dengan kelelahan, terutama setelah bekerja keras.

Nafsu makan berkurang, merupakan gejala lain pada penyakit ini. Bahkan sebagian penderita tidak ada nafsu makan sama sekali. Penderita merasa mual sampai muntah-muntah hebat, kadang-kadang justru disertai diare.

Manifestasi perdarahan juga merupakan tanda khas dari leptospirosis, berupa muntah darah, terdapat darah dalam tinja, perdarahan di bawah kulit dan sebagainya. Sering pula kelihatan pembuluh darah halus yang tampak membayang (in jeksi) pada selaput bening mata maupun hulu kerongkongan.

Hati dapat membesar dan disertai gejala serta tanda mirip orang “sakit kuning” (hepatitis), yaitu selaput lendir serta kulit berwarna kuning. Dalam kondisi tertentu, jantung dan ginjal dapat terkena. Tidak jarang pula timbul gangguan saraf yang bermanifestasi sebagai kaku kuduk sampai bingung.

Upaya Pencegahan

Hampir dapat dipastikan, setiap pascabanjir penyakit leptospirosis akan meningkat. Meskipun mudah dilakukan pengobatan oleh dokter, tetapi lebih baik jika tidak sampai terjangkit. Padahal kebanyakan penderita tidak menyadari telah terjangkit leptospirosis. Umumnya mereka menganggap sebagai kelelahan atau masuk angin, mengingat sehabis bekerja keras membersihkan sisa-sisa banjir.

Beberapa upaya berikut dapat mengurangi kemungkinan berjangkitnya leptospirosis pasca banjir.

– Upaya pencegahan yang utama adalah menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Segeralah mebersihkan diri dan lingkungan sekitar setelah terjadi banjir.

– Setelah mencebur di air genangan, segeralah membersihkan diri, mencuci dan menyabun bagian tubuh yang terkena banjir sampai bersih

– Para pekerja maupun ibu rumah tangga sebaiknya menggunakan sepatu bot, untuk mengurangi sedapat mungkin kontak dengan air banjir.

– Rumah, terutama lantai dan dinding yang terkena air banjir, harus segera dibersihkan dari sisa-sisa banjir. Pergunakan lisol untuk campuran dalam membersihkan lantai.

– Apabila menemui gejala dan tanda seperti disebutkan di depan, terutama pasca banjir, segeralah berkonsultasi dokter untuk memperoleh kepastian dan pengobatan yang sesuai serta mencegah timbulnya berbagai komplikasi.

Sumber: Dr.dr.Anies M.Kes. 2005. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. Hal 104-108. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: