Oleh: akbarmangindara | 28 Agustus 2012

Review Film “The Intouchables” (Cacat Itu Bukan Orang Sakit)

Film selalu memberikan kesan tersendiri bagi penikmatnya. Film mampu bercerita sejuta kata tentang apa yang ingin disampaikannya. Beberapa hari yang lalu saya menonton film ini. Dari semua koleksi film yang saya miliki, awalnya ini adalah film yang paling tidak ingin saya tonton. Saya sudah menonton 20 puluh film yang sebelumnya saya ambil dari teman hingga kemudian saya menonton film ini. Saya bertahan 10 menit bersabar menikmati awal dari film ini dan simsalabim saya kecanduan menontonnya hingga selesai.

Film ini memiliki alur maju mundur. Film yang diadaptasi dari kisah nyata antara Philip dan Driss. Philip adalah seorang milyarder kaya raya tapi cacat, seluruh badannya lumpuh kecuali kepala dan driss seorang bangsa kulit hitam yang berbadan besar dan berkepribadian pragmatis serta memiliki emosi yang tidak stabil.

Awalnya dikisahkan Philip membuka lowongan pekerjaan untuk seorang laki-laki yang dapat merawat dirinya dan Driss mendaftar. Driss dengan niat awalnya sebenarnya hanya membutuhkan tanda tangan bahwa ia telah ikut tes wawancara untuk merawat orang cacat sebagai bukti untuk mendapatkan tunjangan social dari pemerintah akhirnya jadi ketagihan merawat Philip. Philip yang tertarik dengan kepribadian driss yang cukup tidak stabil akhirnya diterima bekerja dengan masa percobaan selama seminggu.

Selama merawat Philip, Driss terkadang lupa kalau Philip itu orang cacat. Namun hal itulah yang disukai Philip dari Driss. Driss di mata Philip diperlakukan layaknya manusia normal kebanyakan. Mereka melakukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh orang normal yang lain yang sifatnya jauh dari menjaga kesehatan seperti merokok. Tapi Philip senang dengan perlakuan seperti itu. Philip tidak senang dengan perawat sebelumnya yang merawatnya dengan label “kasihan”. Kejadian-kejadian kocak selama driss bekerja sebagai perawat semakin membuat Philip merasa nyaman.  Perawat-perawat sebelumnya yang bekerja hanya bisa bertahan kurang dari seminggu setelah Philip memecatnya.

Di akhir kisahnya, Driss membantu Philip bertemu dengan wanita yang sering ia kirimi puisi. Driss berhenti menjadi perawat Philip tapi mereka tetap berteman dengan sangat baik.

Film ini sangat menggugah hati, menggugah perasaan. Pelajaran berharga terlebih bagi saya yang calon perawat dalam memperlakukan pasien apakah sudah tepat atau tidak. Pengalaman praktik klinik keperawatan lebih banyak dilakukan karena faktor kasihan. Saya juga sadar sekarang bahwa orang cacat yang selama ini dalam pikiranku, saya kategorikan sebagai orang sakit ternyata salah. Orang cacat juga manusia biasa, manusia yang ingin diperlakukan secara normal dan wajar!!!

 
 

Iklan

Responses

  1. Nanti coba nonton ah 😉

    Suka

    • emang punya filmya?? klo ke bioskop skrg sdh ga ada..

      Suka

      • beli dong, bajakan 5000 rupiah haha. mau protes ga? 😛

        Suka

        • aduh hari gini masih beli bajakan.. Malu dong.. Mending langsung copas filmnya dr teman yg punya.. GRATIS.. hehehe

          Suka

          • beli bajakan bukan karya negeri sendiri no problem buat saya hehehe, lagi pula copas itu apa bedanya sama pedagang? mereka juga copas kok 😉

            Suka

            • hahahah..iya juga ya..

              Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: