Oleh: akbarmangindara | 23 Agustus 2012

Membisniskan Panti Asuhan dan Pengalaman Berbisnis

Suatu hari di bulan ramadhan saat berbincang dengan tetangga seputar bisnis yang baik untuk prospek ke depan, dengan candaannya dia berkata “Sepertinya Bisnis Membuka Panti Asuhan Bagus Kalau Bulan Ramadhan, yang dibutuhkan cuma papan nama bertuliskan panti asuhan lalu kita panggil anak-anak sekitar rumah untuk jadi penghuninya, jadilah panti asuhan dan kita tinggal tunggu donatur untuk memberi sumbangannya”.

Kata-katanya cukup menggelitikku. Saya tidak membantah dan tidak juga membenarkan apa yang dikatakannya karena saya belum pernah melihat kasus seperti ini tapi menurut dia Bisnis panti asuhan itu sangat banyak. Inilah fenomena saat ini yang menurut dia sedang marak saat ini.

Terus terang saja, saya tidak punya pikiran negatif terhadap orang yang membuka panti asuhan. Niat seseorang  tentunya hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu. Kalau yang ada dipikiran saya sendiri bahwa orang yang membuka panti asuhan pastilah orang-orang yang baik dan suka menolong.

Orang-orang yang membisniskan panti asuhan berarti sudah punya niat yang salah menurut saya walaupun ujung-ujungnya katanya akan membantu anak-anak yang ada di dalam panti juga. Sebenarnya kalau kita memang punya niat untuk membuka panti asuhan sebaiknya memang diniatkan dengan baik dan dari hati karena memang ingin menolong dan ikhlas karena Allah.

***

Kembali ke awal terkait bisnis, saya memiliki beberapa pengalaman berbisnis. Tahun 2009 kemarin sebelum pindah Ke Universitas Islam Negeri Alauddin, saya mencoba sebuah peruntungan dengan mencoba berbisnis kecil-kecilan dengan menjadi agen pulsa. Sebelumnya saya kuliah di pendidikan ekonomi Bisnis Universitas Negeri Makassar selama setahun. Pada waktu itu saya meminta uang sama bapak, modal sebesar lima ratus ribu rupiah. Alhasil dalam sebulan bukannya berhasil tetapi malah bangkrut karena teman-teman yang terlalu banyak mengutang dan lupa untuk bayar.

Ketika saya minta teman-teman untuk bayar utangnya, jawaban pengutang serentak sepakat “besok-besok aja yahhhhhhhh”. Kalau kata-kata ini sudah keluar dari lebih 90 % pengutang barang, lantas diri kita memiliki sifat malu-malu tikus untuk berkali-kali menagih utang, maka siap-siaplah untuk gulung tikar secepatnya. Saya mengalaminya kawan. Tragis bukan!!!

Kebangkrutanku itu diketahui oleh bapakku setelah saya ceritakan. Bapakku adalah seorang lulusan sarjana ekonomi. S1nya dia selesaikan di salah satu perguruan tinggi di Jeneponto. Kawan, kesedihan akibat kebangkrutanku ini diperparah oleh bapakku sendiri. Jadi setiap kali saya jalan sama bapakku ke sanak saudara atau temannya atau di rumah sendiri ketika ada tamu, pasti dia ceritakan kisah pilu kebangkrutanku menjalankan bisnis. “Anak saya bangkrut, hahahaha”. Baginya ini adalah sebuah lelucon orang dewasa tapi tidak lucu sama sekali bagiku.

Saya tidak kapok waktu itu dan saya mencoba sebuah bisnis baru dengan berjualan stiker timbul untuk handphone. Pada saat itu saya gunakan logo kampus dengan variasi berbagai warna sesuai warna kesukaan teman-teman Mahasiswa. Pangsa pasar pada saat itu memang diperuntukkan untuk kalangan mahasiswa UNM saja. Niat awalnya sebenarnya bagaimana kemudian menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap kampus sendiri. Untuk modalnya saya mempertaruhkan tunjangan bulanan yang diberikan oleh orang tua. Bisnis ini cukup berjalan lancar, pesanan kala itu cukup banyak dan keuntungan yang lumayan buat Mahasiswa hidup untuk beberapa minggu ke depan. Cukup lama saya menekuni dan memonopoli bisnisnya hingga akhirnya saya berhenti dari bisnis itu.

Ada beberapa factor yang menyebabkan saya mundur dari bisnis ini. Faktor utamanya adalah munculnya ratusan pesaing dari teman-teman mahasiswa yang ikut berdagang stiker macam ini. Bayangkan saja dalam satu perguruan tinggi ada ratusan pesaing yang berdagang barang yang sama. Kita gontok-gontokkan untuk menjual barang ini ke teman-teman mahasiswa yang tentunya tidak menjual barang ini. Sistem jual beli paksa banyak diterapkan waktu itu dan sudah tidak sesuai dengan ajaran agama. Karena banyaknya pesaing, hal ini kemudian membuat harga stiker kala itu menurun dratis dari harga lima ribu perak ke dua ribu perak dengan modal untuk satu stiker itu seribu perak. Hal ini sesuai banget dengan hukum teori ekonomi yang saya pelajari sebelumnya. Saya lupa bagaimana bunyi hukum pastinya, tapi menyangkut kajadian di atas.

Setelah mencoba bisnis konvensional di atas, saya kemudian mengambil peluang bisnis baru yakni bisnis “Multilevel Marketing”. Bisnis itu diperkenalkan oleh salah seorang dosen mata kuliah Bisnis ekonomi juga. Saya cukup tertarik dengan presentasi bisnis yang dibawakan oleh uplinenya yang seorang dokter dan kepala puskesmas. Sangat menarik karena bisnisnya seputar produk kesehatan dan dibawakan pula oleh seorang dokter cantik. Saya mengambil peluang bisnis itu dengan membayar biaya formulir bergabung kurang lebih delapan puluh ribu rupiah. Sebenarnya saya ditawari beberapa paket bisnis tapi waktu itu saya masih tidak berani mengambil risiko yang terlalu tinggi untuk menanamkan modal yang besar. Prinsip saya waktu itu bagaimana belajar dan mengenal bisnis itu. Teori Ekonominya “Bagaimana mengeluarkan biaya yang seminimal mungkin untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya”.

Keuntungan ketika saya bergabung di sini mungkin saya tidak mendapatkannya secara financial tapi secara pembelajaran berbisnis saya mendapatkan pengalaman yang cukup luar biasa karena saya langsung belajar sama ahlinya dengan melihat apa yang dilakukannya untuk mengembangkan bisnis multilevel marketingnya ini. Karena kesibukan perkuliahan dan organisasi ditambah badanku yang semakin kurus karena terlalu banyaknya aktivitas yang saya lakoni, saya kemudian memutuskan untuk meninggalkan bisnis ini untuk mengurangi sedikit beban fisikku. Bekerja di bisnis ini betul-betul harus focus dan memiliki tenaga ekstra karena harus bekerja keras merekrut orang untuk bergabung bersama-sama membangun jaringan dan menjalankan bisnis ini.

Setelah berpindah dari UNM ke UIN, saya sepenuhnya tidak lepas yang namanya bisnis. Saya banyak berbagi pengalaman ke teman-teman terutama di organisasi tentang bagaimana berfikir kreatif dan mengaplikasikannya untuk mendapatkan dana kegiatan, bukan hanya mengandalkan proposal semata. Teman-teman sering berjualan cake tapi just cake tanpa embel-embel. Dengan sedikit pengalaman bisnis yang saya pelajari, kekuatan produk itu berada di brand dan kemasannya. Produk yang kita buat, apapun itu harus diberikan nama/brand dan dikemas dengan cantik dan baik untuk menarik hati pembeli. Dan menurutku  ini cukup berhasil. Saya sendiri kembali bergabung dengan salah satu bisnis Multilevel Marketing yang bergerak di bidang kesehatan lagi. Lucunya, bapakku sendiri yang turun tangan langsung memasukkanku ke dalam bisnis ini.

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: