Oleh: akbarmangindara | 18 Agustus 2012

Refleksi Ramadhan 2012

Ramadhan tahun ini menyisakan rentetan peristiwa yang cukup menguras air mata. Kehilangan 2 nenek sekaligus di bulan Ramadhan ini. Yang pertama adalah nenek Jora yang meninggal di awal bulan Ramadhan dan yang kedua adalah nenek Sitti yang meninggal di akhir bulan Ramadhan ini.

Walaupun keduanya bukanlah nenek kandung secara langsung tapi buatku merekalah nenek yang cukup berdedikasi mengajarkanku arti kehidupan. Nenek jora misalnya, ia adalah nenek dokter buatku. Dia sering mengobatiku dengan tiupan ajaib dari mulutnya. Pun saya belajar beberapa teknik pengobatan dari beliau. Nenek jora juga bagiku adalah seorang penutur sejarah yang mengajarkan saya bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah. Beliau sering menceritakan kisah masa lalu tentang perjuangan melawan penjajahan Belanda dan Jepang sehingga negeri kita bisa Merdeka sampai sekarang ini.

Nenek Sitti mengajarkan kemandirian. Beliau sangat jarang mengeluh. Kemandirian yang diajarkan beliau adalah jika kita masih bisa melakukan suatu pekerjaan yang diri sendiri masih bisa lakukan, maka kerjakanlah sendiri sebisa mungkin. Nenek Sitti pergi meninggalkan sebuah wajah yang sangat tenang, wajah tenang ketika ia tertidur seperti biasanya.

Ramadhan di tahun ini masih jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Jika tahun lalu saya cuma bisa berpuasa selama 8 hari pertama karena sakit yang saya alami, sekarang ini saya bisa berpuasa selama sebulan lamanya. Berpuasa sebulan menahan nafsu lapar dan dahaga. Buruknya adalah saya masih tidak bisa menahan nafsu yang lain selain makan dan minum. Masih sering bergulat dengan alam bathin.

Terkait Sholat, ada beberapa catatan tentang sholat fardhu dan tarwih di bulan ramadhan tahun ini. Sholat fardhu dan tarwih ketika masih di Makassar masih sangat baik dan sangat jarang bolongnya. Entah kenapa setiba di kampung, rasa malas menggerogotiku dan saya semakin jarang untuk melakukan aktivitas Sholat fardhu dan tarwih.

Untuk pertama kalinya selama saya hidup, saya tidak menggunakan baju baru untuk berlebaran. Ini sebuah catatan rekor baru untuk menahan nafsu membeli baju baru pada saat berlebaran. #Mewek

Pada akhirnya saya ingin mengucapin selamat Merdeka semoga bisa menjadi generasi muda yang mandiri. Saya teringat kata-kata pak Yusuf Kalla “Bangsa yang besar adalah bangsa yang percaya akan kemampuan dirinya sendiri”. Dan Mohon maaf Lahir bathin. Happy Idul Fitri. Semoga kita masih bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Amien.

Iklan

Responses

  1. selamat berlebaran. minal aidzin walfaidzin.. *makan ketupat*

    Suka

    • Minal aidin wal faidzin juga..

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: