Oleh: akbarmangindara | 15 Agustus 2012

Stop Mengeluh, Mandirilah!!!

akbar mangindara

Seorang sahabat pernah mengatakan: Kamu itu jadi orang jangan terlalu berharap sama pertolongan orang lain dan jangan sering mengeluh. Berusahalah untuk mandiri.

Aku serasa ditampar oleh kata-katanya, seperti dibangunkan kembali dari tempat tidurku yang nyaman dengan meggunakan tombak yang tajam. Ya, aku sadar selama ini aku terlalu sering meminta bantuan orang lain. Setiap ada masalah, ujung-ujungnya pasti ngeluh. Mengeluhnya aku luapkan pula sama orang-orang disekitarku. Aku kini sadar aku ternyata bukanlah orang cukup baik dan bisa diandalkan apalagi dalam lingkup berorganisasi. Entah kenapa aku sering merasa ketakutan akan apa yang aku jalani hari ini.

2 hari yang lalu saat sore hari saat aku jujur sama ibu bahwa aku cukup banyak mendapatkan nilai “C” dalam beberapa mata kuliah. Sontak wajah ibu langsung muram dan hampir sejam lamanya mulai dari menggoreng ikan sampai menyiapkan takjil untuk berbuka puasa, ibu menceramahiku. Kemarin pagi ibu kembali menceramahiku, mengulangi apa yang dikatakan sebelumnya.

Aku tahu aku telah mengecewakan ibuku. Ibu selalu berharap bahwa aku selalu menjadi yang terbaik di kampus. Orangtuaku butuh kebanggaan akan anak-anaknya terlebih ibuku sehingga ia bisa menceritakan betapa hebatnya anaknya ini kepada tetangga, kerabat dan teman-temannya. Kedua kakakku yang sudah jadi sarjana tak cukup untuk membuatnya bahagia apalagi bangga. Kedua kakakku menyelesaikan kuliahnya lebih dari lima tahun bahkan kakak pertamaku menyelesaikan kuliahnya selama 6 tahun dengan IPK sejagad.

Ibu menganggap bahwa kami terlalu santai kuliah. Kami bahkan dibanding-bandingkan dengan anak temannya yang lain yang dianggapnya sukses. Ibu memberiku beban untuk mendapatkan IPK minimal 3,5. Menurut ibu IPK tinggi adalah segalanya. Ibu percaya bahwa dengan IPK tinggilah, maka saya akan sukses di masa depan. Ini mengerikan, bukannya membuatku termotivasi malahan hal ini semakin membuatku takut untuk menjalani apalagi menatap masa depanku. Aku takut untuk mengecewakan ibu yang kesekian kalinya. Apalagi melihat kondisi IPK ku yang biasa-biasa saja.

Sekarang aku sudah di tahun keempat perkuliahan semester 7 di kampus UIN Alauddin Makassar. Tinggal Awalnya menjalani kuliah begitu menyenangkan. Sampai akhirnya aku mendapat banyak tuntutan yang aku sendiri ragu-ragu apakah bisa mewujudkannya. Aku mulai banyak menghabiskan waktu di organisasi. Sering masuk kampus tapi lebih banyak tidur di dalam kelas. Entah kenapa aku jadi lemas dan tidak begitu bersemangat. Ketika ujian semakin dekat, waktu lebih banyak aku habiskan untuk nonton Film. Aku jadi malas belajar, apalagi membaca teks slide berwarna hitam putih dengan bahasa tingkat tinggi dari dosen.

Tak terasa rambutku mulai putih akibat stress berkepanjangan menjalani proses perkuliahan. Cuma beberapa orang dosen yang membuatku tidak mengantuk dalam kelas selebihnya beberapa dosen mengajar dan asyik di dunianya sendiri. Aku jadi sering nyontek pekerjaan teman-teman yang aku sendiri pun ragu apakah jawabannya betul atau tidak. Pokoknya asal ada sedikit coretan yang berlabuh dalam pelabuhan kertas ujianku.

Bahkan ketika aku belajar keras dan sudah memahami sepenuhnya materi yang akan diujiankan, entah kenapa abrakadavra semuanya jadi hilang dalam ingatanku. Aku ketakutan dengan ujian tapi tidak menunjukkannya. Aku baru menyadari setelah membaca beberapa artikel kesehatan dan membaca tanda dan gejala dalam diriku bahwa ternyata selama ini ternyata aku menderita demensia dini dampak dari stress berkepanjangan dimana aku gampang sekali lupa akan sesuatu. Aku sering lupa dengan apa yang aku katakan setelah berbicara hanya sepersekian detik. Aku jadi sering meminta orang-orang “maaf, saya lupa apa yang barusan aku katakan tadi?”.

Mungkin ini terdengar gila atau aneh tapi aku merasakannya sendiri. Aku kemudian mencari-cari artikel untuk mengurangi dampak dari “Demensia Dini” yang sering kualami. Dan aku menemukan dua anjuran yang sangat tidak biasa menurutku dan cuma orang-orang yang luar biasa yang melakukannya untuk mengatasi demensia dini ini. Ini adalah anjuran 2 pekerjaan yang dulunya aku senangi dan mulai aku tinggalkan. Aku dianjurkan untuk kembali banyak membaca dan menulis untuk mengurangi dampak dimensia dini yang aku alami. Menulis di blog ini adalah salah satu caraku untuk mengurangi dampaknya.

Sekarang perlahan-lahan aku mulai mengurangi kebiasaan mengeluh dan hanya meminta tolong jika aku benar-benar sangat membutuhkan pertolongan dari orang lain. Tapi ya, masih ada sedikit rasa ketakutan dalam diriku saat ini. Entah ketakutan apa, aku sendiri masih bertanya-tanya dalam diriku. Who I Am?

Iklan

Responses

  1. Akbaaar haha, sama nilai saya juga C lagi C lagi. IPK juga ga pernah dapet 3. Untungnya papa saya baik hati, cuma mama saya aja yang agak-agak-gimana gitu ya hahaha. Biasa ibu-ibu. Mengeluh emang gakan merubah kenyataan, tapi sedikit melegakan, jadi yasudahlah (maap comment saya semacam curhat) =))

    Suka

    • Kt sepertinya senasib.!!

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: