Oleh: akbarmangindara | 25 Juli 2012

[IM-HAN] Gerakan Anak Indonesia Berbahasa Sopan dan Santun

Mengajar dan merawat adalah dua bagian seperti lapisan koin yang tidak terpisahkan. Saya menyukai keduanya sebagai bagian penting untuk membuat manusia menjadi lebih baik. saya meyakini kata-kata dalam Al-Qur’an “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.”

Fokusku sekarang di dunia anak-anak kota Makassar tentang berbahasa sopan dan santun. Hal ini di latarbelakangi sewaktu mendengar salah seorang keponakanku yang baru berusia 6 tahun menyebutkan kata “Sundala” dalam bahasa Makassar yang berarti pelacur. Kata “sundala” ini digunakan untuk memanggil teman-teman sebayanya. Hal itu sangat menggangguku. Anak-anak bebas mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor dengan sesuka hatinya.

Saya teringat ketika kecil dahulu, menggunakan kata-kata kotor dan kasar sangat tidak dibenarkan. Salah seorang teman pernah mendapatkan hukuman dari guru ketika mengucapkan kata-kata kotor. Bibirnya dilumuri cabai kecil yang sangat pedas untuk membuat efek jera mengeluarkan kata-kata kotor itu. Alhasil sekarang sudah terbiasa menggunakan kata-kata yang baik. Intinya adalah bagaimana bersikap menghargai orang lain dengan berbahasa sopan dan santun.

Suatu hari saya ditugaskan oleh Palang Merah Indonesia kota Makassar untuk bertanggung jawab di salah satu Sekolah Menengah Pertama di kota Makassar untuk mengajarkan Palang Merah Remaja. Di sekolah inilah kemudian menjadi sebagai titik awal mengenal dunia mengajar. Selain mengajarkan kepalangmerahan seperti pertolongan pertama, hidup bersih dan sehat, saya juga menyelipkan materi “Gerakan Anak Indonesia Berbahasa Sopan dan Santun” di adik-adik siswaku.

Bentuk pengajarannya sederhana dengan melatih mereka berpikir tentang dampak berbicara kasar dan kotor. Mereka kemudian membuat list tulisan dan menempelkannya di majalah dinding sekolah supaya teman-teman mereka bisa baca dan tahu akan dampaknya.

Sebelumnya saya melakukan riset kecil-kecilan di sekolah itu tentang “Kenapa siswa-siswa suka berkelahi dan tawuran”. Hampir seratus persen menjawab karena ketersinggungan akibat saling meledek antara satu dan lainnya. Saya juga mendata kata-kata negatif yang paling sering digunakan dan alhasil kata “Sundala, anjing, asu,” adalah kata yang paling sering digunakan oleh siswa.

Dari adik siswa-siswaku di sekolah inilah pertama kalinya saya menularkan gerakan berbahasa sopan dan santun. Minimal mereka tidak pernah menggunakan kata-kata itu. Lebih baik lagi jika mereka menularkan gerakan berbahasa sopan dan santun di teman-temannya.

Ayo Anak Indonesia. Mari Berbahasa Sopan dan Santun untuk kehidupan yang lebih baik

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: