Oleh: akbarmangindara | 3 Juli 2012

Kisah Praktik Klinik Hari Pertama Di Rumah Sakit Labuang Baji’

2 Juli 2012

Hari ini adalah hari pertamaku praktik klinik keperawatan di rumah sakit Labuang Baji’ Makassar. Hari senin dan saya bertugas pagi hari dari pukul 07.30-14.00. Saya ngebut di jalanan, berpacu dengan waktu supaya tidak terlambat di hari pertamaku ini. Mataku masih sayup-sayup dampak dari begadang nonton Final piala Euro 2012 antara Spanyol VS Italia. Alhamdulilah jagoanku masih membuktikan keperkasaannya mempertahankan gelar juara piala Eropa 2008 silam. ya Spanyol is the WINNER dengan skor yang sangat telak 4-0 buat Italia. Saya seperti melihat pertandingan babak penyisihan. Ini sangat tidaklah baik, jika terjadi pembantaian di Final piala Euro. Sekali lagi Spanyol membuktikan keperkasaannya.

Saya tiba pukul 07.50 di pintu gerbang RS LB. Kucepatkan langkah kaki mengejar waktu, Alhamdulilah ternyata perawat senior baru satu orang yang hadir. Syukurlah tidak mendapat hukuman, saya pikir akan mengganti dinas selama 2 hari akibat keterlambatan di hari pertama. Saya kemudian lakukan visited ruangan. Ruangan yang saya tempati praktik klinik ini untuk penyakit-penyakit interna. Saya praktik keperawatan medikal bedah selama 1 minggu di sini.

Praktik hari pertama ini cukup menguras tenaga, kita banyak belajar dari pasien. Bagi calon tenaga kesehatan  seperti saya “pasien adalah guru yang paling baik”. Saya banyak belajar dari mereka. Banyak tindakan keperawatan yang saya lakukan di hari pertama ini.

Dari kepala ruangan saya mendapat kasus Dispepsia (bahasa yunani: pencernaan buruk) dengan pasien Ny T 72 tahun. Saat melakukan pengkajian terhadapnya, ada sedikit kisah dari nenek ini yang mengusik bathinku saat itu.  Dia sendiri di rumah sakit dan tidak ada yang menemaninya. Dari tujuh anak kandungnya, belum satupun ada yang datang menjenguknya. Kata nenek, mereka semua sibuk bekerja. Dalam pikirku, sesibuk apakah mereka semua sampai ibunya yang sudah 3 hari di rawat di rumah sakit tidak pernah menampakkan batang hidungnya sama sekali.

Beberapa saat kemudian datang  2 orang gadis, yang satu gemuk dengan kulit sawo matang dan yang satunya kurus berkulit putih. Keduanya adalah cucu, yang kulit putih adalah cucu kandungnya sedangkan yang kulit sawo matang cucu dari saudara sepupunya nenek.

Si gadis gemuk ini bicaranya sangat kasar, mungkin kesal dengan perlakuan anak-anak si nenek sehingga dihadapan nenek langsung dia berkata “nenek, tidak usahmi harapkan kedatangan anak-anak maling kundangta, karena mereka tidak akan datang”. Kasihan sekali si nenek, dia seperti orang yang dibuang oleh anak-anaknya. Tapi dia tetap keras kepala, bersabar bahwa anaknya akan datang menjenguknya di rumah sakit ini. Makanya nenek tetap bersikukuh untuk tetap di rumah sakit ini walaupun kedua cucu yang datang memaksanya untuk pulang dirawat di rumah saja.

Cucu kandungnya sendiri pun yang ada pada saat itu ketika ditanya apakah siap menjaga nenek di rumah sakit pun tidak mau menjaganya.

 **

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya melihat jelas pasien yang meregang nyawa. Saat itu pasien Ny. S kata mamanya lagi tidak enak perasaannya. Saya mencoba menengoknya sebentar, usik salah seorang sahabat kecil yang menyuruh saya melakukan pemeriksaan tekanan darah yang kebetulan tantenya lagi menjalani perawatan tepat di samping Ny.S. Aku diam sebentar  mengamati keadaan pasien yang sedari tadi sudah melotot dengan nafas yang cepat. Kusentuh kulitnya dan terasa hangat. Segera kuambil Spighmamometer dan Stetoskop dari ruangan perawat. Kupasang Spighmamometer dan berusaha mencari nadinya. Nadinya hampir tidak teraba, tangan yang sedari tadi ditekuk kucoba luruskan dan kudapatkan tekanan darah yang begitu rendah 50/40 mmHg.

Dengan perasaan yang mulai cemas, melihat keadaan ini segera kulapor dokter yang menangani pasien ini. Dokter yang menangani pasien masih berbincang dengan dokter senior meminta petunjuk, dan saya bergegas kembali ke ruangan pasien itu. beberapa saat kemudian, pasien mengeluarkan cairan hitam dari mulutnya, cairan lambung yang sudah bercampur darah mengalir keluar. Aku berlari lagi sekuat tenaga ke ruangan dokter dan mengatakan bahwa pasien muntah darah. Baru kemudian para dokter yang ada di ruangan bergerak menuju ke ruangan pasien Ny.S.

Tapi apa mau dikata, setibanya dokter di sana, dia sudah tidak menemukan denyut nadi sedikitpun. Dokter menutup mata Ny.S. Pasien sudah menghembuskan nafas yang terakhir. Sebagai penghormatan terakhir kepada pasien, kulepas peralatan medis yang masih melekat di tubuh pasien. Sungguh tragis menurutku, hari pertamaku praktik klinik keperawatan di rumah sakit ini dan ada pasien yang meninggal tepat di hadapanku. Bodohnya lagi diriku karena saat itu saya panik, tidak bisa berbuat banyak atas kondisi itu dan berharap sepenuhnya kepada dokter bisa menyelamatkannya. Tapi di sudut lain hatiku berkata, kita bukan Tuhan yang bisa mengembalikan nyawa seseorang tapi kita bisa berusaha menyelamatkan jiwa seseorang dengan berusaha sebaik mungkin dengan ilmu yang kita miliki.

***

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: