Oleh: akbarmangindara | 28 Juni 2012

Pemutaran Film Dokumenter seputar “Kegigihan, Tradisi, Budaya, Agama dan Pluralisme”

Mataku memandang seluruh ruangan ketika aku mulai memasuki pintu gedung yang digunakan untuk pemutaran film documenter dan diskusi public di kampus UIN Alauddin Makassar. Pemutaran film documenter sudah dimulai sehingga keadaan dalam ruangan agak gelap tapi aku masih bisa melihat jumlah penonton yang ada di ruangan. Tidak lebih dari tiga puluh orang yang mengikuti acara ini, pesertanya pun lebih didominasi oleh generasi pendidikan yang memakai seragam putih abu-abu.

Satu persatu film documenter diputar. Untuk film pertama aku menyaksikannya dipertengahan film yang bersetting di salah satu sudut kota Jakarta dengan obyek filmnya tentang orang-orang yang berprofesi sebagai tukang ojek sepeda. Cukup menarik melihat kegigihan orang-orang yang tetap mempertahankan ojek sepeda selama bertahun-tahun meskipun juga banyak tukang ojek sepeda yang beralih menggunakan sepeda motor. Kisah film “Sutadi Sudah Tak Di Sini” menggambarkan bahwa profesi tukang ojek sepeda sudah mulai ditinggalkan, beralih ke yang lebih modern dan lebih cepat.

Film kedua yang diputar berjudul “Lapuh”, bersetting di salah satu kota medan dengan kisah OBAMA di terminal (Orang Batak Makan di Terminal) kebanyakan berprofesi sebagai sopir yang senang meminum Lapuh (salah satu minuman khas sejenis tuak). Sangat menarik dari pernyataan salah satu pembicara Wahyuddin Halim bahwa meminum lapuh adalah salah satu alternative kebahagiaan dari sejumlah alternative kebahagiaan lain yang mungkin kita bisa lakukan. Nongkrong di salah satu warung di terminal sambil menunggak lapuh adalah sebuah tradisi masyarakat yang sudah sangat lama dan dijadikan sebagai sebuah bentuk silaturahmi untuk memperkuat persaudaraan antar sesama mereka satu profesi.

Film ketiga berjudul “Tugu, Bayang Masa Lalu” yang berkisah pewarisan budaya musik keroncong di Tugu. Semula aku mengira bahwa tokoh dalam film adalah seorang muslim karena kopiah yang digunakannya. Pewarisan sebuah budaya agar tetap eksis sejatinya dimulai dari dasar, dan mengajarkan kepada anak-anak adalah hal yang tepat. Kecintaan kepada budaya harus ditanamkan sejak dini agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap terjaga.

Film keempat berjudul “Tamil“ yang berkisah tentang orang india dari suku tamil yang berada di medan. Ada benturan budaya dan tradisi dari orang-orang tamil yang menetap dan berkewarganegaraan Indonesia. Pluralisme sangat tampak pada film ini. Beberapa tradisi masih dipegang teguh dan sebagian lagi bercampur, beradaptasi dengan kondisi masyarakat di sana. Tradisi yang masih kukuh dijalankan seperti tradisi pernikahan ala suku Tamil dan pemakaian sari bagi kaum wanita, cirri khas wanita-wanita india.

Membuat film documenter untuk merekam suatu kejadian adalah sebuah gerakan yang bisa dijadikan sebagai salah satu alternative dari gerakan untuk menyampaikan aspirasi tanpa harus dengan jalan kekerasan. Tidak harus melakukan aksi-aksi yang bersifat primitive, merusak fasilitas umum, membakar ban, menutup jalan atau bahkan merusak kampus sendiri. Sebuah gambar bisa mewakilkan ribuan kata-kata apalagi sebuah gambar berjalan, tentu bisa menjadi wadah aspirasi dengan bentuk yang lain dan tentu saja etika baik yang tetap terjaga.

Menarik beberapa film documenter yang diputar obyeknya adalah orang-orang biasa yang banyak terjadi disekeliling kita. Sejarah mencatat, dimana untuk merekam kejadian dimasa lalu hanya untuk orang-orang yang berada di kalangan istana karena mereka memiliki kekuasaan dan harta untuk menyewa seorang untuk menulis atau merekam perjalanan hidup mereka. Lain halnya petani, pegawai atau orang-orang biasa yang kisah peradabannya tidak direkam semuanya hilang tak berbekas. Jadi jika kita mau mendefinisikan secara radikal bahwa sejarah hanyalah milik mereka yang berada di kalangan istana.

Film documenter sejatinya memberikan gambaran sekitar kita, bagaimana kehidupan masyarakat yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. Tradisi dan budaya yang tetap dijaga nilai-nilai kesopanan tanpa merugikan yang satu dengan yang lainnya. Indonesia dengan berbagai keragamannya disatukan dalam satu naungan NKRI dan perbedaan itu yang menyatukannya maka selayaknya kita menghargai perbedaan-perbedaan di negeri tercinta ini.

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: