Oleh: akbarmangindara | 7 Juni 2012

Standar Diet Tinggi Energi Tinggi Protein

Protein adalah salah satu penyusun dasar pembangun tubuh manusia, yang membentuk sekitar 16 persen dari berat total tubuh kita. Otot, rambut, kulit, dan terutama jaringan ikat terdiri dari protein. Protein memainkan peran utama dalam semua sel dan sebagian besar cairan di dalam tubuh kita. Selain itu, banyak bahan kimia penting tubuh kita seperti enzim, hormon, neurotransmiter, dan bahkan DNA kita – setidaknya terdiri dari protein. Meskipun tubuh kita pandai “daur ulang” protein, kita menghabiskan protein terus-menerus, sehingga sangat penting untuk terus menggantinya (Dolson: 2011).

Protein dari unit yang lebih kecil disebut asam amino. Tubuh kita memerlukan asam amino, sehingga sangat penting untuk memasukkan semua asam amino dalam makanan kita. Protein hewani seperti daging, telur, dan produk susu memiliki asam amino, begitupun protein nabati dari tumbuhan juga memiliki asam amino (Dolson: 2011).

Sejumlah asam amino sangat diperlukan dalam pembentukan protein jaringan, hal ini sangat tergantung pada macam asam amino sesuai dengan jaringan yang akan dibentuk. Berbagai asam amino di peroleh dari berbagai makanan yang dikonsumsi, sesudah dicerna di dalam usus besar kemudian diserap melalui darah dan sebagian disintesa dalam tubuh (Kartasapoetra, 2005:55).

Kebutuhan protein normal adalah 10-15 % dari kebutuhan energi total, atau 0,8-1,0 g/kg BB. Kebutuhan protein normal untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen adalah  0,4-0,5 g/kg BB. Demam, sepsis, operasi, trauma dan luka dapat meningkatkan katabolisme protein  sampai 1,5-2,0 g/kg BB. Sebagian besar pasien yang dibutuhkan 1,0-1,5 g protein/kg BB (Almatsier, 2006:25).

Diet energi tinggi protein tinggi (ETPT) adalah diet yang mengandung energi dan protein di atas kebutuhan normal. Diet diberikan dalam bentuk Makanan Biasa ditambah bahan makanan sumber Protein tinggi seperti susu, telur dan daging atau dalam bentuk minuman Enteral Energi Tinggi Protein Tinggi. Diet ini diberikan bila pasien telah mempunyai cukup nafsu makan dan dapat menerima makanan lengkap (Almatsier, 2006:53).

Tujuan Diet Energi Tinggi Protein Tinggi adalah untuk:

(1)   Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh.

(2)   Menambah berat badan hingga mencapai berat badan normal (Almatsier, 2006:53)

Syarat-syarat diet energi tinggi protein tinggi adalah:

(1)   Energi tinggi, yaitu 40-45 kkal/kg BB

(2)   Protein tinggi, yaitu 2,0-2,5 g/kg BB

(3)   Lemak cukup, yaitu 10-25 % dari kebutuhan energi total

(4)   Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energi total

(5)   Vitamin dan mineral cukup, sesuai kebutuhan normal

(6)   Makanan diberikan dalam bentuk mudah cerna (Almatsier, 2006:53)

Diet Energi Tinggi Protein tinggi Diberikan kepada pasien:

  1. Kurang Energi Protein
  2. Sebelum dan setelah operasi tertentu , multi trauma, serta selama radioterapi dan kemoterapi
  3. Luka bakar berat dan baru sembuh dari penyakit dengan panas tinggi
  4. Hipertiroid, hamil, dan post partum di mana kebutuhan energi dan protein meningkat (Almatsier, 2006: 54)

Defisiensi protein hampir selalu, atau praktis selalu bergandengan dengan defisiensi kalori.  Asosiasi kedua  penyakit ini dapat dipahami melalui berbagai hubungan antara protein dan energi (kalori) (Sediaoetama, 2010: 85).

Hubungan metabolisme terdapat antara energi dan protein, yaitu bahwa protein merupakan salah satu penghasil utama energi. Jadi bila energi kurang cukup di dalam hidangan, maka protein yang lebih banyak dikatabolisme menjadi energi. Ini berarti semakin kurang protein yang tersedia untuk keperluan lain, termasuk untuk sintesa protein tubuh (Sediaoetama, 2010: 85).

Ada bukti bahwa orang yang melakukan aktivitas latihan daya tahan (seperti berjalan jarak jauh) atau latihan resistif berat memerlukan tambahan protein dalam makanan mereka. Salah seorang peneliti terkemuka di bidang ini merekomendasikan 1,2-1,4 gram per kilogram berat badan per hari untuk senam ketahanan dan 1,7-1,8 gram per kg per hari untuk latihan kekuatan berat (Dolson: 2011). Pemakaian suplemen protein pada atlet dipercaya dapat meningkatkan ukuran otot sehingga kekuatan otot akan bertambah dan dapat mengurangi lemak tubuh. Penggunaan ekstraprotein dapat berupa menambah konsumsi bahan makanan sumber protein terutama protein hewani melebihi kebutuhan normal yang dianjurkan atau menggunakan jenis asam amino tertentu dalam bentuk tepung. Binaragawan adalah contoh olahragawan yang sering mengonsumsi protein berlebih, misalnya dalam sehari harus menyantap berpuluh-puluh telur, beberapa kilogram daging dan suplemen protein. (Irianto, 2007:130)

Sebenarnya kebutuhan protein relatif sedikit sehingga apabila asupan makanan sehari-hari sudah mencukupi kebutuhan zat gizi termasuk protein maka suplemen protein (asam amino) tidak diperlukan. Dengan menu makanan tersebut, kebutuhan protein untuk pertumbuhan dan penggantian sel-sel yang rusak sudah tercukupi. (Irianto, 2007:131)

Asupan protein yang berlebihan memberatkan kerja ginjal dan hati yang berpengaruh terhadap kinerja olahragawan. Untuk itu, olahragawan tidak dianjurkan mengonsumsi protein yang berlebihan (high protein intake) (Irianto, 2007:131).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa diet protein tinggi dapat mengurangi berat badan lebih baik dibandingkan dengan diet tinggi serat pada diet penurunan berat badan wanita dengan faktor risiko sindrom metabolisme. Temuan lainnya menunjukkan bahwa manfaat yang cukup besar juga dapat diperoleh dari diet yang kaya akan sereal gandum, kacang-kacangan, buah-buahan utuh dan sayuran dan rendah lemak jenuh (Morenga: 2011).

Mengganti beberapa karbohidrat diet dengan protein selama pembatasan energi tidak meningkatkan berat badan atau kehilangan massa lemak atau memiliki efek merusak pada pergantian tulang atau tekanan darah pada subyek dengan resistensi insulin, setidaknya dalam jangka pendek. Protein dari makanan asupan daging, unggas, dan susu yang cukup tinggi daripada yang biasanya dikonsumsi oleh populasi Barat lakukan, bagaimanapun, mengurangi glukosa postload dan konsentrasi triasilgliserol puasa (Farnswort: 2002).

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: