Oleh: akbarmangindara | 18 April 2012

Informasi Dasar Seputar Penyakit Crohn

Enteritis regional, ileokoltis, atau penyakit crohn merupakan suatu penyakit peradangan granulomaltosa kronis pada saluran cerna yang sering terjadi berulang. Secara klasik penyakit ini menganai ileum terminalis, walaupun dapat juga mengenai setiap saluran cerna. Penyakit ini biasanya timbul pada orang dewasa muda dalam usia dekade kedua atau ketiga dan lebih sering lagi terjadi dalam usia dekade keenam. Laki-laki dan perempuan terserang dalam perbandingan yang kira-kitra sama. Penyakit corhn cenderung bersifat familial dan paling sering terjadi pada kulit putih atau Yahudi.

Inflamasi pada penyakit crohn timbul sebagai lesi granulomatosa berbatas tegas dengan pola terpisah-pisah yang tersebar diseluruh bagian usus yang terkena. Di antara daerah inflamasi terdapat jaringan usus yang normal. Pada inflamasi kronis, timbul jaringan ikat dan fibrosis sehingga usus menjadi kaku tau tidak fleksibel. Apabila fibrosis terjadi di usus halus, penyerapan zat gizi akan  terganggu. Jika penyakit terlokalisasi terutama dikolon, keseimbangan air dan elektrolit dapat terganggu. Saluran atau fistula abnormal kadang-kadang  terbentuk antara bagian saluran cerna dan antara bagian saluran cerna dan saluran GI dan vagina, kandung kemih atau rektum. Hal ini dapat menyebabkan malarbsobsi dan infeksi.

Gambaran Klinis

Gejala utama adalah diare, nyeri abdomen, dan penurunan berat badan. Sering pula didapatkan malaise, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, dan mungkin terdapat demam subfebris. Terjadi mendadak, dapat menyerupai obstruksi dan apendisitis.

Pada enteritis regional, awitan gejala biasanya tersembunyi, dengan nyeri abdomen menetap dan diare yang tidak hilang dengan defekasi. Diare terjadi pada 90% pasien. Jaringan parut dan pembentukan granuloma mempengaruhi kemampuan usus untuk mentranspor produk dari pencernaan usus atas melalui lumen terkontriksi, mengakibatkan nyeri abdomen berupa kram. Karena peristaltic usus dirangsang oleh makanan, nyeri kram terjadi setelah makan. Untuk menghindari nyeri kram ini, pasien cenderung untuk membatasi masukan makanan, mengurangi jumlah dan jenis makanan sehingga kebutuhan nutrisi normal tidak terpenuhi. Akibatnya adalah penurunan berat badan, malnutrisi, dan anemia sekunder. Selain itu, pembentukan ulkus di lapisan membrane usus dan ditempat terjadinya inflamasi, akan menghasilkan rabas pengiritasi konstan yang dialirkan ke kolon dari usus yang tipis, bengkak, yang menyebabkan diare kronis. Kekurangan nutrisi dapat terjadi akibat absorpsi terganggu. Akibatnya adalah individu menjadi kurus karena masukan makanan tidak adekuat dan cairan hilang secara terus menerus. Pada beberapa pasien, usus yang terinflamasi dapat mengalami perforasi dan membentuk abses anal dan intra-abdomen. Terjadi demam dan leukositosis. Abses, fistula, dan fisura umum terjadi.

Perjalanan klinis dan gejala bervariasi. Pada beberapa pasien terjadi periode remisi dan eksaserbasi, sementara yang lain penyakitnya mengikuti beratnya penyebab.

Gejala meluas keseluruh saluran gastrointestinal dan umumnya mencakup masalah sendi (arthritis), lesi kulit (eritema nodosum), gangguan okuler (konjungtivitis), dan ulkus oral.

Etiologi & Komplikasi

Belum diketahui, namun diduga disebabkan oleh mikobakterium atipikal, measles, dan penyakit vascular. Kebiasaan merokok meningkatkan risiko mendapat penyakit Crohn. Penyakit ini lebih sering ditemukan di Negara maju.

Walaupun tidak ditemukan adanya autoantibodi, enteritis regional juga diduga merupakan salah satu reaksi hipersensitifitas atau mungkin disebabkan oleh agen infektif yang belum diketehui. Teori ini dikemukakan karena adanya lesi-lesi granulomatosa yang mirip dengan lesi-lesi yang ditemukan pada lesi jamur dan tuberculosis paru.

Terdapat beberapa persamaan yang menarik antara enteritis regional dan colitis ulserativ. Keduanya adalah penyakit radang, walaupun lesinya berbeda. Kedua penyakit ini bermanifestasi diluar saluran cerna yaitu uveitis, arthritis, dan lesi kulit yang identik. Merokok adalah faktor resiko terjadinya penyakit crohn, tetapi tidak pada colitis ulseratif (Rubin,Hanauer,2000).

Komplikasi yang sering terjadi dari peradangan ini adalah penyumbatan usus, saluran penghubung yang abnormal (fistula) dan kantong berisi nanah (abses).

Fistula bisa menghubungkan dua bagian usus yang berbeda. Fistula juga bisa menghubungkan usus dengan kandung kemih atau usus dengan permukaan kulit, terutama kulit di sekitar anus.

Adanya lobang pada usus halus (perforasi usus halus) merupakan komplikasi yang jarang terjadi. Jika mengenai usus besar, sering terjadi perdarahan rektum. Setelah beberapa tahun, resiko menderita kanker usus besar meningkat.

Sekitar sepertiga penderita penyakit Crohn memiliki masalah di sekitar anus, terutama fistula dan lecet (fissura) pada lapisan selaput lendir anus.

Penyakit Crohn dihubungkan dengan kelainan tertentu pada bagian tubuh lainnya, seperti batu empedu, kelainan penyerapan zat gizi dan penumpukan amiloid (amiloidosis).

Bila penyakit Crohn menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran pencernaan, penderita juga bisa mengalami :

– peradangan sendi (artritis)

– peradangan bagian putih mata (episkleritis)

– luka terbuka di mulut (stomatitis aftosa)

– nodul kulit yang meradang pada tangan dan kaki (eritema nodosum) dan

– luka biru-merah di kulit yang bernanah (pioderma gangrenosum).

Jika penyakit Crohn tidak menyebabkan timbulnya gejala-gejala saluran   pencernaan, penderita masih bisa mengalami :

– peradangan pada tulang belakang (spondilitis ankilosa)

– peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis)

– peradangan di dalam mata (uveitis) dan

– peradangan pada saluran empedu (kolangitis sklerosis primer).

Pada anak-anak, gejala-gejala saluran pencernaan seperti sakit perut dan diare sering bukan merupakan gejala utama dan bisa tidak muncul sama sekali.

Gejala utamanya mungkin berupa peradangan sendi, demam, anemia atau pertumbuhan yang lambat.

Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendeteksi penyakit Crohn, namun pemeriksaan darah bisa menunjukan adanya:

– anemia

– peningkatan abnormal dari jumlah sel darah putih

– kadar albumin yang rendah

– tanda-tanda peradangan lainnya.

Barium enema bisa menunjukkan gambaran yang khas untuk penyakit Crohn pada usus besar.

Jika masih belum pasti, bisa dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dan biopsi untuk memperkuat diagnosis. CT scan bisa memperlihatkan perubahan di dinding usus dan menemukan adanya abses, namun tidak digunakan secara rutin sebagai pemeriksaan diagnostik awal.

Pengobatan ditujukan untuk membantu mengurangi peradangan dan meringankan gejalanya.

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: