Oleh: akbarmangindara | 7 Januari 2012

Sebuah Nama Sebuah Cerita

Apalah arti sebuah nama? Pertanyaan ini sering kita dengarkan yang kemudian secara tidak sadar kita mulai melakukan pencarian untuk menjawab pertanyaan itu. Menanggapinya tergantung dari persepsi kita masing-masing. Bagi saya nama adalah hal yang sangat penting karena dengan nama bisa membedakan kedirian saya dengan yang lain.

Seiring perjalanan waktu sudah ada 7 nama panggilan yang melekat dalam ingatanku. Setiap nama memiliki waktu  dan cerita tersendiri. Saya paling tidak senang ketika saya dipanggil “anu”. Kata “anu” adalah sesuatu yang tidak terdefinisi dan itu diungkapkan karena ketidaktahuan tentang nama seseorang. Dalam keseharian dalam masyarakat Makassar, kata “anu” juga sering digunakan untuk menyebutkan alat reproduksi pria dan wanita.

Ketika lahir saya diberi nama “Nur Akbar” oleh kedua orang tua saya. Saya sering mengeluhkan kenapa saya diberi nama seperti ini. Dengan sebutan ini sering saya diejek oleh teman-teman kecil dan berfikir untuk mengganti nama saja. Dalam persepsi teman-teman kecilku nama “Nur” yang ada pada nama saya itu  hanya untuk seorang anak perempuan. Maklum anak-anak perempuan mayoritas menggunakan nama nur seperti Nurhayati, Nuryanti, Nurliah, Nurul. Ketika saya konfirmasi ke bapak atau ibu,  saya tidak mendapatkan alasan yang cukup memuaskan bathinku. Hingga suatu hari guru mengaji saya menjelaskan arti nama saya yang ternyata diambil dari dua gabungan bahasa arab Nur yang berarti cahaya dan Akbar yang berarti besar. Dari sini kemudian saya berfikir bahwa dengan nama ini secara tersirat orang tuaku menginginkan saya menjadi orang yang berguna bagi banyak orang dan berjiwa besar.

Memasuki usia dewasa, Dalam kuliah yang saya geluti sekarang ini sering saya mendengar nama Florence Nightingale. Florence adalah seorang perawat yang namanya melejit saat pecah perang Krim antara Inggris, Perancis, dan Turki melawan Rusia pada tahun 1854-1856. Saat itu banyak sekali tentara Inggris yang terluka dan dibiarkan terlantar di rumah sakit darurat di medan perang karena tak cukupnya tenaga perawat di tempat itu. Florence dengan tulus dan berani membawa 38 orang perawat ke rumah sakit itu. Selama 21 bulan, ia mengabdi tak kenal lelah merawat, menghibur tentara yang terluka dan mengusahakan perbaikan fasilitas rumah sakit darurat tersebut. Florence tak pernah absen untuk selalu berpatroli menjenguk korban yang terluka bahkan di tengah malam yang dingin. Kedatangan Florence yang berjalan kaki membawa lentera selalu dinantikan para pasien. Florence memperoleh julukan Malaikat dengan Lentera.

Dari hal ini kemudian saya melakukan perjalanan pemikiran ke masa lalu tentang arti nama saya dan siapa saya sekarang ini. Sekarang saya bergelut di bidang kepalangmerahan sebagai relawan Palang Merah Indonesia dan profesi saya ke depan Insya Allah sebagai perawat. Makanya jangan heran nama saya sangat familiar, kalau dengar Adzan pasti selalu di sebut.

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: