Oleh: akbarmangindara | 5 April 2011

MEMORI DI ATAS PETE-PETE KAMPUS UIN ALAUDDIN

Pete-pete sebuah sebutan untuk angkutan kota di Sulawesi selatan. Beragam warna mulai dari merah, kuning hijau, biru. Ya, Seperti pelangi saja. Biasanya tiap jalur yang dilewati pete-pete memiliki satu warna tersendiri untuk membedakannya dengan pete-pete jalur lain seperti pete-pete dari arah gowa ke pasar sentral Kota Makassar, semuanya kompak dengan satu warna yakni Eja (Merah), tapi ini berbeda dengan pete-pete di kampus UIN. Pete-petenya punya beragam warna. Yang bedakan Cuma tulisan depan kaca “Kampus UIN/IAIN Alauddin  Makassar”.

Bagi pete-pete holic (sebutan untuk pengguna pete-pete kampus UIN) naik pete-pete tentunya hal yang wajib. Bagi yang tinggal sekitar kampus 1 UIN, butuh perjuangan berat untuk menuju kampus 2 UIN yang notabene berlokasi di Samata Gowa. Mesti mendaki gunung, lewati lembah, melawan topan, badai, hujan.. hahaha lebay.

Pete-Pete kampus UIN

Hal menarik pada pete-pete kampus UIN, jika yang biasanya naik pete-pete taruh pantat, itu pete-petenya langsung jalan. Tapi kalau naik pete-pete kampus UIN “Ohw, tidak bisa”. Kita mesti menunggu sampai penumpangnya penuh. Kita mau datang cepat atau lambat, dosen mungkin sudah masuk, tugas segera dikumpul, ada presentasi. Tidak peduli, mesti menunggu sampai penumpangnya penuh. Kalau mau atur damai silahkan bayar 5000 rupiah. Ini nih yang sering bikin jengkel apalagi pas keuangan kita sementara tipis-tipisnya. Serasa kepala ingin meledak dan teriak-teriak.

Penumpangnya mahasiswa dengan beragam karakter yang unik-unik. Mulai dari yang paling cerewet sampai yang paling diam. Yang paling diam nih, Kita baru mendengar suaranya jika dia bilang “kiri”. Ya elahhh, kikir amat ya suaranya. Tapi dimaklumi, dari pada banyak omong yang enjel (endak jelas) kan lebih baik diam. Ada juga penumpang yang suka merokok. Penumpang kayak begini nih yang bikin jengkel.

Naik pete-pete kampus UIN serunya tuh kalau bareng teman kelas. Pokoknya bisa gila-gilaan di atas (tapi tidak sampai gila beneran). Tidak ada yang jaga image, jadi diri sendiri. Pokoknya 20 menit perjalanan dari kampus 1 ke kampus 2 digunakan kebanyakan untuk bergosip aja. Jadi teringat omongannya pak Ustadz. Astagfirullah, mahasiswa jaman sekarang sukanya bergosip katanya.

Naik pete-pete kampus UIN itu taruhan nyawa. Hidup dan mati, kita gadaikan di supir dan seonggok kaleng besar yang suara mesinnya seperti orang yang lagi terkena Tubercolosis akut (pete-pete kampus). Pernah sekali pete-petenya mogok di tengah jalan dan jarak menuju kampus itu masih sangat jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh. Tapi untungnya supir pete-pete kampus UIN sudah bergaya hidup modern, tinggal ambil handphone dari saku celana dan menelpon rekan sejawatnya sesama supir pete-pete kampus. Saya kira kita mesti dorong seonggok kaleng besar itu sampai kampus 2, tapi prasangka saya waktu itu ternyata salah.

Yang seru kalau lewat di jalan hertasning menuju kampus sampai di perempatan. Entah kenapa saya seperti di atas kuda pacu yang sedang berlari. Jalanan betonnya yang mungkin agak bergelombang yang membuat kita di atas pete-pete bergoyang-goyang sendiri seperti ada pegas di pantat kita. Setelah melewati jalan beton, 200 meter menuju kampus telah menunggu jalan gempa. Saya sebut jalan gempa karena jalannya “Masya Allah”. Penuh lubang, bergelombang, aspalnya sudah terguras sehingga kalau di atas pete-pete seperti terkena gempa 5 Skala Richter.

Tapi bagaimanapun juga pete-pete kampus UIN mesti kita hargai karena telah membantu kita untuk sampai di kampus. Tapi mungkin sudah saatnya ada pete-pete kampus yang baru karena selama ini pete-pete yang ada semuanya bekas dan sudah berumur belasan tahun. Mungkin itu sekelumit cerita saya dari atas pete-pete kampus UIN yang mungkin tidak akan didapatkan oleh teman-teman mahasiswa UIN yang memiliki kendaraan sendiri.

Statement Penutup dari seorang teman pete-pete holic “kita sebenarnya nda usa malu, kita smestinya bangga cos tiap hari kita ganti sopir n ganti mobil. keren toh gonta-ganti mobil ma sopirnya”.heheheh…***

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: