Oleh: akbarmangindara | 25 Maret 2011

TIDAK USAH JADI DOKTER

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, seorang guru menanyakan cita-cita kami di kelas. Hampir semua siswa menjawab “saya mau jadi dokter bu guru”. Ketika di SMP, SMA pun seperti itu, ketika dibuka jalur Penerimaan Mahasiswa Jalur Khusus (PMJK) hampir semua siswa di kelasku ingin menjadi dokter. Seorang guru kemudian mengumumkan bahwa hanya satu siswa yang boleh mengurus PMJK untuk mengambil satu kursi di fakultas kedokteran Universitas Hasanuddin.

Guru kemudian memberi syarat bahwa yang boleh mengurus untuk fakultas kedokteran hanya bagi pemilik nilai raport yang paling tertinggi di sekolah. Hasilnya kemudian teman-teman mencari jalan-jalan yang tidak lurus agar mendapatkan nilai yang paling tertinggi mulai dari hal menyontek sampai menyogok guru untuk diberikan nilai yang paling tertinggi. Raport pun kadang-kadang diubah atau diganti dengan raport yang baru agar isi dalam raportnya adalah nilai-nilai yang tertinggi. Cita-cita sejuta umat untuk menjadi seorang dokter yang merupakan tugas mulia didapatkan dengan cara yang sangat tidak etis dan cenderung kotor.***

Miskonsepsi yang ada di masyarakat bahwa tolak ukuran sukses tertinggi adalah ketika orang menjadi seorang dokter. Dan ini paham yang saya dapatkan ketika masih berada di bangku pendidikan sekolah dasar. Kita diracuni untuk hanya memilih dua cita-cita yakni jadi Dokter dan PNS (Pegawai Negeri Sipil). Terkadang kita masih dianggap pengangguran oleh orang-orang di kampung jika belum menyandang salah satu gelar ini.

Ketika akan masuk di fakultas kedokteran kembali kita disuguhi dengan bayaran fantastis yang bahkan sampai ratusan juta. Makanya tidak heran kemudian jika fakultas kedokteran identik dengan fakultas elit dengan orang-orang berdompet tebal. Buat orang miskin mesti pikir seribu kali untuk masuk di jurusan ini meskipun memiliki kecerdasan dan keinginan tingkat tingkat tinggi untuk jadi dokter.

Kekhawatiran akibat keinginan untuk menjadi dokter yang tidak sampai ini kemungkinan akan melahirkan ilmuwan-ilmuwan enjel (tidak jelas) yang bukan berbasis kedokteran. Orang-orang seperti ini kemungkinan tidak ikhlas dalam menjalankan profesinya. Wallahu a’lam..

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: