Oleh: akbarmangindara | 1 Maret 2011

KATA MEREKA AKU KEJAM (MENDALAMI PERASAAN SANG M.Tuberculosa)

Semenjak aku ditemukan pertama kali lebih dari seabad yang lalu, mendadak namaku menjadi sangat tenar melebihi penemuku sendiri Robert Koch yang mendapatkan nobel. Aku tak tahu apakah aku harus memanggilnya ayah atau tidak, karena dia yang menemukanku dan memberiku nama. Aku sangat berbeda jauh baik dari segi bentuk maupun cara hidup.

Mycobacterium tuberculosa, manusia memanggilku dengan sebutan ini. Namaku sendiri diambil dari bahasa latin. Aku salah satu genus dari tiga puluh genus Mycobacterium. Sebenarnya aku takut dengan nama ini. Sudah banyak manusia yang meninggal karenaku. Tapi sudahlah, sepertinya sudah menjadi takdirku dan aku harus menjalaninya.

Terkadang aku kasihan dengan manusia, aku telah merampok paru-parunya untuk dijadikan tempat tinggal dan berkembang biak. Aku paling suka tinggal dan bereplikasi di parenkim paru-parunya. Tapi mau bagaimana lagi, eksistensi kehidupanku juga harus dipertahankan. Kata mereka aku kejam. Terserah, manusia memanggilku seperti itu atau semacamnya. Aku berusaha tak mempedulikannya.

Sudah sebulan aku menempati paru-paru ini. Beberapa saudara-saudaraku sudah melakukan ekspansi ke beberapa organ lain, yang lainnya merantau mencari paru-paru manusia yang lain. Aku sudah tidak tahu bagaimana kabar mereka. Tapi aku berharap mereka baik-baik saja. Di sini masih ada ratusan ribu Mycobacterium tuberculosa lainnya menunggu untuk keluar dan menginfeksi manusia yang lain, tapi sepertinya sudah mustahil.

Sudah banyak cara manusia untuk melenyapkan kaumku dari muka bumi ini. Mereka menggunakan antibiotic untuk menyerang kaumku. Kadang dengan cara ini berhasil dan kadang juga tidak berhasil, sebagian efeknya malah memperburuk keadaan tubuhnya sendiri. Sudah puluhan tahun manusia menggunakan antibiotic untuk memusnahkan kaumku. Diam-diam pula para nenek moyangku terdahulu menciptakan kekebalan baru untuk menangkal antibiotic yang datang. Beberapa berhasil mematikan  sebagian Mycobakterium tuberculosa tapi juga banyak bakteri baik yang terbunuh oleh antibiotic itu sebut saja Escherechia coli. Itulah yang kadang memperburuk keadaan manusia ini.

Terkadang aku ingin berontak kenapa aku mendapatkan kehidupan yang seperti ini. Salahkah jika aku juga ingin hidup? Manusia terus saja mengibarkan bendera perang kepadaku. Kata mereka aku kejam. Tak ada yang menginginkan kehidupan seperti ini. Alamlah yang menjadikan aku seperti ini dan manusia menyediakan apa yang aku butuhkan. Ya! Mungkin ini hanya akan menjadi sekedar gurauanku saja. Andaikan aku diciptakan sempurna seperti manusia mungkin takkan seperti ini jadinya.

Kadang aku iri melihat teman-teman bakteri lain yang hidup di usus seperti Escherechia coli yang melakukan simbiosis mutualisme dengan manusia. Mereka sangat membantu dengan melakukan pembusukan bahan makanan yang sudah dicerna dan membentuk Vitamin K. Tidak seperti aku yang hanya bisa menjadi parasit di tubuh manusia ini tanpa bisa membantunya. Malahan hanya mendatangkan penyakit yang mereka sebut tuberculosis (TBC).

Sangat terkenal penyakit tuberculosis yang aku dan kaumku buat ini. Data statistik dari manusia sendiri konon katanya, dari sepuluh orang yang aku infeksi, biasanya hanya satu orang yang mengalami gejala tuberculosis. Pun orang yang terkena gejala tuberculosis juga bisa tidak parah jika memiliki sistem imun yang baik. Tapi 2000 orang setiap tahunnya meninggal akibat penyakit ini. Ini menandakan bahwa sistem imun manusia semakin menurun.

Kebetulan paru-paru manusia yang aku tempati sekarang ini adalah seorang perokok, sistem imunnya sering menurun. Jadi aku tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk menginfeksinya. Paru-parunya menjadi tempat yang cocok untuk aku tinggali. Memang aneh manusia ini, dia sendiri yang menciptakan iklim untuk tumbuhnya penyakit dalam tubuhnya. Dia tidak mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepadanya. Aku hanya menjalankan kodratku secara alamiah untuk memperburuk keadaan manusia ini.

Sempat aku berpikir bahwa aku tercipta untuk menghukum manusia sebagai perpanjangan tangan Tuhan di dunia. Menghukum mereka yang memiliki perilaku hidup yang buruk. Tapi sepertinya aku salah. Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang? Toh beberapa manusia yang juga pernah terkena tuberculosis adalah orang-orang baik.

Hahhh, infeksiusku sepertinya sudah akan berakhir seiring kematian manusia ini. Bau tanah sudah begitu sangat menusuk. Tapi aku tidak akan khawatir, eksistensi kehidupan Mycobacterium tuberculosa tidak akan pernah mati. Kaumku Mycobacterium tuberculosa yang lain mungkin sementara bersemedi di dalam tubuh setiap manusia. Menunggu kejatuhan manusia akibat perilakunya sendiri dan akhirnya kaumku yang memenangkan perang dengan manusia. Kata mereka aku kejam. Terserahlah!***

Iklan

Responses

  1. keren tulisanx k’…
    TBC mmang g’ pilih2 org…

    Suka

    • Iya.. Kapan2 bikin tulisan bareng sm aku ya..

      Suka

  2. bagus de…..terus di asah bakatnya…..jangan lupakan kakakmu yang CANTIK ini

    Suka

    • Mita: Makasih.. iya kakak yg merasa cantik.. heheheh

      Suka

  3. sunggug MengesanKan>>>>>>>

    Suka

    • BeIbZt: Makasih..

      Suka


Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: