Oleh: akbarmangindara | 19 Mei 2010

Tanggung Jawab Kemanusiaan Perawat Profesional Vs Egoisme Kepentingan Individualitas

Dosen saya yang mengajar mata kuliah pendidikan pancasila dan kewarganegaraan memiliki seorang anak yang sudah menjadi perawat. Kepada saya dan beberapa teman mahasiswa diceritakan bahwa anaknya lulus pegawai negeri sipil (PNS) dan ditempatkan di salah satu pelosok desa di sidrap. Belum cukup seminggu anaknya merengek kepadanya sudah minta pindah kembali ke Makassar. Dosen saya bilang, anaknya ini tidak ingin tinggal jauh dari ibunya dan tidak tahan kehidupan di desa. Akhirnya dengan perjuangan keras, dosen saya yang juga merupakan seorang guru besar akhirnya bisa memindahkan anaknya ke Makassar dan bekerja menjadi perawat di salah satu rumah sakit di Makassar.

Ingin aku tertawa dan menangis mendengar kisah anaknya ini. Apakah seperti ini model perawat sekarang? Tapi inilah realita, ini hanya satu contoh dari sekian banyak permasalahan.

Sebenarnya aku sedikit heran dengan pemberitaan yang  mengatakan bahwa sejumlah seratus ribu lulusan keperawatan menganggur. Sementara jika kita menengok ke puskesmas berbagai daerah terutama daerah pelosok begitu kekurangan tenaga perawat. Kadang dijumpai hanya satu perawat yang menangani puluhan pasien. Di daerah pelosok lain bahkan tidak memiliki pusat layanan kesehatan sehingga pengangguran tenaga keperawatan semakin tinggi. Ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah buat pemerintah yang harus segera ditangani dalam pemerataan layanan kesehatan di seluruh daerah dengan membangun pusat kesehatan masyarakat di daerah-daerah pelosok. Jika pemerintah sedikit saja serius melihat ini, maka pengangguran lulusan keperawatan tidak akan terjadi.

Teringat kisah suster rabiah tahun 2006 silam yang di filmkan dalam sebuah film documenter berjudul suster Apung. Kita melihat bagaimana perjuangan dia merawat orang-orang di ratusan pulau-pulau terluar kabupaten pangkep. Sungguh tanggung jawab besar yang dibebankan padanya. Pengabdiannya selama puluhan tahun mencerminkan dialah salah satu contoh perawat yang patut diteladani. Kisah suster Rabiah adalah sebuah kisah inspirasional, sebuah kisah yang menunjukan semangat berbagi dan pengabdian kepada masyarakat, Perawat ini dengan tulus ikhlas melayani pasiennya.Tapi di sini saya melihat keironisan bahwa kurang petugas layanan kesehatan terutama perawat sementara di waktu yang bersamaan sejumlah lulusan sekolah perawat merengek meminta pekerjaan.

Di sinilah ketimpangan social terjadi dimana lulusan sekolah keperawatan yang notabene akan menjadi seorang perawat cenderung ingin bekerja di rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang ada di kota. Strategi pemerintah dengan mencantumkan pernyataan “Siap Di Tempatkan Di Mana Saja Di Seluruh Pelosok Indonesia” nyatanya tidak begitu berpengaruh terhadap penempatan tenaga perawat di daerah pelosok. Semuanya masih terfokus dan menumpuk di perkotaan. Dengan adanya pernyataan tersebut semakin meyakinkan bahwa perawat kekurangan rasa tanggung jawab kemanusiaan dan keikhlasan untuk merawat.

Kenapa di kota? Gambaran masyarakat perkotaan adalah banyaknya orang kaya di dalamnya sedangkan pedesaan identik dengan kemiskinan. Dengan analogi seperti itu, dapat dikatakan sebagian perawat sekarang ini masih membedakan pelayanan kesehatan kepada pasien di lihat dari status social ekonominya di masyarakat.

Egoisme kepentingan individu sebagian perawat sekarang ini menurut saya sudah dalam taraf yang memprihatinkan. Aku tahu jika perawat juga butuh “kesejahteraan” tapi jangan sampai menghilangkan aspek kemanusiaan karena pikiran materialistic yang terlalu berlebihan. Segala sesuatu di ukur dari kaca mata uang di mana orang yang memiliki uang yang berlebih yang mendapatkan pelayanan kesehatan paling maksimal ketimbang orang miskin. Inilah gambaran diri sebagian perawat sehingga muncul pernyataan sebagian masyarakat “perawat judes”. Istilah ini kebanyakan di pakai oleh masyarakat miskin yang mendapatkan pelayanan keperawatan yang kurang baik.

Dalam sudut pandang etika Normatif, tanggung jawab perawat yang paling utama adalah tanggung jawab di hadapan Tuhannya. Sesungguhnya penglihatan, pendengaran dan hati akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Tuhan. Segala sesuatu yang kita perbuat dalam melayani pasien akan dipertanggungjawabkan. Sebagai perawat selalu diwajibkan untuk memberikan pelayanan terbaik yang disertai dengan keikhlasan untuk melayani. Jadi sungguh miris kemudian jika ada sebagian perawat ada yang masih membeda-bedakan pasien.

Dalam  perkuliahan pertamakuku konsep dasar keperawatan, dosenku selalu menekankan sikap keikhlasan dan keseriusan yang harus dimiliki perawat. Keikhlasan dalam melayani setiap pasien yang ada tanpa membeda-bedakan status sosialnya. Keseriusan melayani pasien karena yang dilayani dalam keperawatan adalah manusia, untuk itu jangan pernah sekali-kali bermain-main dengan tubuh manusia. Dengan adanya kedua sikap ini maka tanggung jawab perawat akan mudah dilaksanakan dengan baik

Seandainya saja perawat bisa sedikit ikhlas merelakan dirinya sepenuh hati maka dimanapun tempat ia akan bekerja dia akan terima dengan sepenuh hati. Mengabdikan dirinya dan melayani pasien dengan baik tanpa membeda-bedakan antara manusia yang satu dan yang lainnya.***

(Juara 2 dalam lomba Essay Kesehatan Se Kota Makassar yang diadakan oleh Lembaga Pers SINOVIA Fakultas Kedokteran UNHAS 2010)

Iklan

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: