StuntingSumber foto

Family… a group of experience love and support – Marianne Williamson

Meski usianya sudah 6 tahun, S terlihat masih tampak seperti balita yang baru berusia 3-4 tahun. S tampak kurus dengan lengan yang tampak mengerut dan perut yang terlihat sedikit mencembung. S juga termasuk anak yang cengen dan suka murung. Dibandingkan dengan anak-anak sebaya di lingkungannya, S juga memiliki postur yang lebih pendek meskipun memiliki usia yang sama. Kondisi S juga dialami oleh salah satu kakaknya yang juga terlihat pendek.

S tinggal bersama kedua orang tua, ketiga saudara dan neneknya di dalam sebuah rumah kecil dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu dan lantai yang masih berupa tanah. Kedua Orang tua S hanya berpendidikan sekolah dasar. Ayah dari S bekerja sebagai tukang becak di kota Makassar dengan penghasilan yang tidak menentu.

Ibu dari S bercerita, ketika dirinya mengandung, dirinya malas memeriksakan kehamilannya ke fasilitas kesehatan walaupun puskesmas hanya berjarak 1 kiloan meter dari rumahnya.  Hal yang sama juga terjadi di kehamilan sebelum-sebelumnya yang jarang memeriksakan kondisinya ke fasilitas kesehatan dan sewaktu melahirkan dirinya selalu dibantu oleh dukun beranak. Ibu S mengatakan selama hamil juga tidak terlalu mempedulikan asupan makanannya. Ibu S menganggap anaknya S pendek karena keturunan dari keluarga sebelumnya yang juga pendek-pendek.

Cerita ini merupakan potret salah satu anak stunting dari keluarga miskin di lingkunganku Pabiringa, Kabupaten Jeneponto. Keluarga tidak mengenal masalah kesehatan dan menganggap stunting sebagai hal yang biasa. Kemauan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan juga kerap kali tidak dilakukan khususnya pemeriksaan selama kehamilan.

Stunting Kondisi Rentan

Stunting merupakan suatu kondisi kerdil pada anak balita yang mengakibatkan anak terlihat lebih pendek dari usia yang seharusnya. Dalam bahasa Makassar dikenal dengan istilah anak dattulu atau anak cebol. Stunting terjadi karena anak mengalami kekurangan gizi kronis dan kondisi ini biasanya sudah terjadi sejak masih janin di mana ibu mengalami kekurangan nutrisi.

Anak dengan stunting banyak di sekitar kita. Dilaporkan 1 dari 3 balita Indonesia mengalami stunting. Badan kesehatan dunia melaporkan bahwa sekitar 35% atau 7,8 juta anak balita Indonesia mengalami kondisi stunting dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara dengan status gizi buruk. Hal yang sama juga ditunjukkan pada laporan data stunting di Sulawesi Selatan yang hampir mencapai 35% prevalensi di tahun 2017.

Seringkali masyarakat menganggap kondisi stunting terjadi karena faktor anak yang malas makan atau karena faktor keturunan. Padahal jauh sebelum itu, risiko stunting sudah terjadi saat anak masih dalam kandungan ibunya. Ibu dalam kondisi kekurangan gizi pada saat saat kehamilan dan melahirkan bayi dengan kondisi BBLR (bayi berat lahir rendah) yang merupakan salah satu faktor dominan terjadinya stunting.

Stunting merupakan kondisi rentan yang berdampak buruk pada kualitas hidup anak. Anak dengan stunting memiliki daya imun yang kurang baik sehingga lebih berisiko terkena penyakit infeksi secara berulang. Karena kondisi itu, anak stunting juga akan cenderung sulit untuk berprestasi dan memiliki produktivitas yang lebih rendah dibandingkan anak yang tidak mengalami stunting. Saat beranjak dewasa, anak dengan stunting biasanya menjadi lebih gemuk dan mudah terkena penyakit jantung, diabetes melitus, hipertensi, dan lain sebagainya.

Kondisi balita stunting biasanya banyak terjadi pada keluarga dengan golongan ekonomi menengah walaupun terkadang juga terjadi pada keluarga golongan ekonomi menengah ke atas. Hal ini bisa terjadi karena terkait dengan pemahaman yang masih kurang atau keluarga belum teredukasi dengan baik dalam melakukan pencegahan stunting. Banyak keluarga yang tidak memahami stunting dan menganggapnya sebagai hal yang biasa.

Penguatan Dukungan Keluarga melalui Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga

Saat ini pemerintah mengeluarkan Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga untuk menjawab permasalahan kesehatan. Hal ini juga merupakan bagian dari agenda kelima Nawa Cita presiden Republik Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia. Tujuannya adalah meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.

Program Indonesia Sehat Pendekatan Keluarga (PISPK) merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang tidak hanya dilakukan di dalam gedung puskesmas tapi diluaskan dengan mendatangi keluarga secara langsung. Hal ini merupakan bagian dari pengembangan dari kegiatan kunjungan rumah oleh puskesmas dan perluasan upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas).

Menurunkan prevalensi stunting merupakan salah satu fokus agenda pembangunan kesehatan yang digalakkan oleh Kementerian Kesehatan Indonesia dalam periode tahun 2015-2019. Upaya yang digalakkan adalah memaksimalkan program gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) yang berfokus pada pelayanan kesehatan masa kehamilan, masa menyusui dan masa bayi hingga usia 2 tahun. Cara ini paling efektif untuk mencegah terjadinya stunting, dilakukan pada 1000 HPK yang terdiri dari 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pertama setelah bayi lahir. Dengan memanfaatkan periode emas ini maka dapat diminimalisir kemungkinan terjadinya stunting pada anak. Untuk memaksimalkannya, cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penguatan dukungan keluarga berupa penguatan dukungan informasi dan dukungan emosional keluarga.

Penguatan dukungan informasi keluarga

Pemberian informasi yang lengkap dapat berpengaruh dalam menjalankan fungsi perawatan kesehatan untuk mengoptimalkan ibu yang sementara hamil atau ibu yang baru memiliki bayi dalam mencegah terjadinya stunting pada anak.

Dukungan informasional merupakan bentuk dukungan yang diberikan keluarga berupa pemberian informasi yang digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi berupa nasihat, usulan, saran, masukan, arahan, petunjuk yang bersifat membangun atau membimbing keluarga agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dukungan informasional diberikan sebagai upaya dalam meningkatkan status kesehatan antar anggota keluarga

Terkait cara pencegahan stunting, keluarga perlu diberikan informasi yang lengkap selama kehamilan mengenai cara memenuhi kebutuhan kesehatan, informasi pola makan yang sehat, pemenuhan gizi seimbang, informasi kebutuhan istirahat yang cukup, upaya menciptakan lingkungan yang sehat bagi ibu hamil, cara mencegah kebiasaan buruk selama kehamilan dan cara meningkatkan kenyamanan dengan terapi komplementer selama kehamilan. Setelah anak lahir, keluarga perlu diberikan informasi tentang cara perawatan bayi, cara memberikan ASI eksklusif, cara melancarkan produksi ASI bagi si ibu.

Penguatan dukungan emosional keluarga

Masa kehamilan adalah masa yang penuh drama bagi ibu. Ibu hamil merasakan berbagai efek samping kehamilan salah satunya adalah mual. Hal ini dapat mempengaruhi status nutrisi ibu yang tentunya dapat mempengaruhi janin dalam kandungan. Oleh karenanya pada masa ini peran suami atau keluarga menjadi sangat penting dan dibutuhkan dalam memberikan perhatian lebih, mendengarkan dan peduli apabila si ibu hamil mengeluh atau perlu bantuan untuk mendengarkan keluh kesah.

Dukungan emosional merupakan bentuk dukungan yang dapat diberikan oleh keluarga berupa kasih sayang, rasa empati, rasa menghargai dan dihargai, mendengarkan dan didengarkan, perhatian, sikap peduli terhadap anggota keluarga, perasaan positif yang dapat meningkatkan kepercayaan diri serta perasaan tidak kesepian dengan berbagi suka dan duka sehingga stres yang dialami dapat berkurang.

Petugas kesehatan dalam menguatkan dukungan emosional keluarga adalah dengan mengajarkan keluarga tentang cara menurunkan kecemasan selama kehamilan, cara memberikan rasa nyaman, cara memberi semangat kepada ibu hamil ketika merasa bosan, cara merawat dengan kasih sayang dan cara berkomunikasi yang baik.

**

Tingginya kasus stunting di Indonesia sudah seharusnya menjadi perhatian semua pihak karena mengancam kualitas generasi masa depan Indonesia. Oleh karenanya mari menciptakan generasi manusia Indonesia yang berkualitas yang bebas dari stunting. Mari kuatkan dukungan keluarga dengan cara mendidik karena mendidik keluarga sama halnya dengan mendidik generasi berkualitas Indonesia di masa depan. Membangun Indonesia dimulai dari keluarga.

Selamat Hari Keluarga Nasional

Oleh: akbarmangindara | 25 Oktober 2016

TIPS Lulus Program Pasca Sarjana FIK Universitas Indonesia

Universitas Indonesia

Ini pengalaman saya lulus di pascasarjana fakultas ilmu keperawatan Universitas Indonesia dan mengambil peminatan spesialis keperawatan komunitas. Berasal dari kampung yang jauh dan tertinggal (daerah 3 T) di kaki Sulawesi Selatan, kuliah di Universitas Indonesia itu ibarat mimpi. Sampai pernah satu waktu teman bapak nanyain, kenapa bisa lulus UI? Kok bisa lulus? Nyogok berapa untuk lulus UI? Yah begitulah!!!

Okey, fokus ke topik. Gimana tips lulus di pascasarjana FIK UI khususnya bagi teman2 sejawat (perawat) yang berminat mengambil spesialis keperawatan di UI. Syukurnya adalah teman-teman tidak perlu cantik atau ganteng untuk lulus di UI. Bagi teman-teman yang ingin melanjutkan pasca sarjana di Universitas Indonesia, UI membuka 3 kali kesempatan setiap tahun (periode April, Juni, Oktober). Tes masuknya itu dinamakan SIMAK UI, teman-teman bisa lihat di sini. Terkhusus untuk Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan, UI biasanya cuma membuka 2 kali pendaftaran dalam setahun yakni periode april dan juni.

Untuk lulus di UI gampang-gampang susah. Ikuti saja segala proses yang ada. Apa saja yang harus dipersiapkan untuk lulus SIMAK UI?

1. Keyakinan

Teman-teman harus yakin dengan diri sendiri dan kemantapan dari hati untuk melanjutkan pendidikan, khususnya bagi teman-teman perawat yang ingin melanjutkan ke jenjang spesialis yang saat ini cuma ada di Universitas Indonesia. Keyakinan disini juga meliputi kesanggupan keuangan juga jika Insha Allah teman-teman lulus UI. Lebih bagus lagi jika teman-teman sudah mendapatkan beasiswa. Keyakinan menjadi berlipat ganda.

2. Belajar

Kalau teman-teman sudah yakin, sekarang waktunya belajar. Berusahalah untuk mempelajari soal-soal UI. Jangan mengandalkan “untung-untungan” untuk lulus. Pengalaman menghadapi SIMAK UI, soal-soal ujiannya sedikit berbeda jika menilik ke belakang menghadapi soal-soal ujian SNMPTN sewaktu tes masuk S1 dulu. Tes SIMAK UI menggunakan sistem minus 1 untuk satu jawaban yang salah. Makanya “untung-untungan” sepertinya kurang berlaku di sini. Belajar dan jawab soal yang bisa dijawab saja (Saran, Lebih baik teman-teman mempelajari buku Lulus SIMAK UI untuk Pascasarjana). Selain itu di UI sendiri, satu bulan sebelum tes SIMAK UI, biasanya ada kelas persiapan menghadapi tes SIMAK UI. Saya sendiri beberapa kali mengikuti kelas persiapan tes SIMAK UI di Fakultas Kesehatan Masyarakat UI dan itu Free. Disitu  dibahas semua contoh soal-soal SIMAK UI dan cara menjawabnya oleh profesornya langsung. Untuk jadwal biasanya diadain setiap 2-3 kali sepekan selepas sholat Ashar.

3. Mendaftar

Nah kalau sudah yakin dan belajar jangan lupa untuk mendaftar SIMAK UI. Jangan sampai karena terlalu yakin, bersemangat belajar, eh lupa mendaftar SIMAK UI nya. Terkhusus buat yang ingin masuk di pasca sarjana FIK UI, sebaiknya dibaca dulu syarat-syarat mendaftar di pasca sarjana FIK UI. Beberapa syarat yang wajib itu bagi teman-teman yang mendaftar yaitu harus dari lulusan IPA sewaktu SMA(bukan IPS atau lulusan SMK) memiliki pengalaman kerja minimal setahun (Pokoknya tidak jauh-jauh dari keperawatan, apakah bekerja di pelayanan atau di pendidikan) dan membayar biaya pendaftaran sebesar satu juta rupiah.

4. Berdoa

Sudah yakin, sudah belajar dan sudah mendaftar jangan lupa berdoa kepada Allah serta jangan lupa juga minta doa dari orang tua sebelum ujian. Jika Segala upaya, daya telah dikerahkan, sisanya Serahkan kepada Allah.

Itu saja sedikit TIPS dari saya, semoga membantu dan saya tunggu teman-teman sejawat untuk bergabung di keluarga besar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.


img20160410105025img20160604122235 img20160605130620 img20161024100757img20160909111306

img20161023154125img20160825160602 img20161023154249 img20161024091956

Oleh: akbarmangindara | 14 Mei 2016

Malam “I La Galigo, Asekku” di Taman Ismail Marzuki

Foto bersama para Pemain Teater Tari I La Galigo, Asekku !

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.32 WIB ketika saya tiba di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Saya sudah telat ini, pikirku berkecamuk! Saya menghabiskan waktu 3,5 jam hanya untuk jarak 22 KM. Jakarta memang sungguh luar biasa.

Keramaian masih nampak di lobi Graha Bhakti Budaya. Beberapa orang masih mengantri untuk tiket pertunjukan “I la Galigo, Asekku”. Terdengar sahut-sahutan orang-orang menggunakan bahasa Makassar dengan logat kentalnya. Baca Selengkapnya..

Oleh: akbarmangindara | 15 Januari 2016

Kisah Kahar, Kusta dan Cerita Tentang Difabel

Karena Kerbatasan Tidak Akan Menghalangi Kita Untuk Berbuat Lebih

Sudah bukan rahasia lagi kalau para penyandang difabel acapkali di cap sebagai warga kelas 2. Di negeri ini, “perbedaan” masih sulit diterima. Masih ingat, seberapa hebat pun seorang Gusdur dan walaupun dia sudah menjadi presiden, pandangan miring sebagian besar masyarakat kita masih tidak mau menerima. “Ah orang buta bisa ngapain? yang milih gusdur pasti juga buta.” Baca Selengkapnya..

Oleh: akbarmangindara | 8 Januari 2016

Oppo R7s, Teman Baru Di Awal Tahun 2016

Selamat datang, Oppo R7 s

Selamat datang di rumah, Oppo R7 s

Minggu, 3 Januari 2016. Hari mulai siang, di luar jalanan kendaraan mulai padat merayap. Ini adalah hari terakhir liburan tahun baru 2016. Dari kendaraan, kami duduk sambil mendengarkan Lagu-lagu dari linkin park yang sudah 3 jam lamanya bersahut-sahutan mengiringi perjalanan dari rumah yang berada di kabupaten jeneponto menuju ke kota Makassar. Bukan tanpa sebab bapak memutar lagu-lagu dari linkin park yang cenderung keras selama perjalanan, itu karena Bapak sering mengantuk ketika berkendara dan butuh musik keras untuk menjaganya tetap dalam keadaan sadar penuh. Baca Selengkapnya..

Oleh: akbarmangindara | 22 Desember 2015

Serba-Serbi Desember 2015

22 Desember 2015. Hari ini bertepatan dengan perayaan Hari Ibu, oleh karenanya pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat hari Ibu bagi seluruh ibu yang ada di dunia.

Sudah hampir setengah setahun lamanya saya meninggalkan blog ini. Lumayan Rindu juga untuk kembali berbagi pengalaman lewat postingan di blog ini. Bukan bosan tapi lebih ke faktor kesibukan pribadi (syok syibuk). Hehehe

**

Desember identik dengan hujan dan Hujan sendiri adalah sebuah keberkahan.

Desember kali ini cukup mengesankan buat saya pribadi. Banyak hal yang telah terjadi dan sebuah kesyukuran besar bisa mengikuti setiap proses yang ada di dalamnya.

Di awal Desember saya mengikuti pelatihan TB bagi tenaga kesehatan selama kurang lebih 5 hari di Hotel F*V* Makassar, kemudian  2 hari berselang saya menjadi moderator seminar nasional kesehatan terkait penyakit jantung bawaan di Gedung Sipitangari Jeneponto. 1 minggu setelahnya bersama Wasor Kusta Jeneponto melakukan kampanye kusta di Desa “Pappalluang” salah satu daerah paling terisolir di kabupaten Jeneponto. Dan kemudian yang baru saja terlewati kemarin adalah refreshing bersama teman-teman pengelola TB se kabupaten Jeneponto di kabupaten Kepulauan Selayar.

Sungguh pengalaman yang luar biasa di bulan Desember ini. Saya mendapatkan pengalaman baru, bertemu dengan banyak teman-teman baru dan ilmu baru.

Tapi hadiah yang cukup spesial yang saya dapatkan di bulan Desember ini adalah email dari LPDP terkait kelulusan saya dalam wawancara beasiswa LPDP. Ini berarti Insha Allah, saya akan melanjutkan studi master saya di tahun depan.

LPDPSpesialnya lagi karena pengumuman ini bertepatan di tanggal 10 desember yang juga sekaligus bertepatan dengan hari kelahiran mama saya. Mama pun senang dengan info kelulusan saya dan kebahagiaan kelulusan ini saya persembahkan buat mama saya tercinta.

Saya berharap di sisa 9 hari terakhir di tahun 2015 ini saya bisa mendapatkan keberkahan lain. Jodoh Mungkin!!!

***

Oleh: akbarmangindara | 29 Juni 2015

Santri, Masjid dan Kekerasan Terhadap Anak-Anak

Memulai tulisan ini saya mengucapkan Happy Anniversary buat blog saya yang hari ini berulang tahun yang ke enam. Andaikan seorang anak, dia sudah masuk sekolah dasar kelas 1. Sebagai permintaan maaf dan sebagai hadiahnya saya membuat tulisan setelah lama berpuasa ngeposting tulisan di blog ini selama beberapa bulan.
***

Kemarin saya membaca sebuah postingan di facebook dengan judul “Dibutuhkan Masjid Ramah Anak” dan itu sedikit membuat saya sedikit flashback mengingat kembali kehidupan saya sewaktu masih anak-anak.

Sekitar tahun 1997 saya menjadi seorang santri untuk pertama kali. Saya di TK TPA masjid At Taqwa. Saya bertemu dengan banyak teman dan guru-guru ngaji yang super sabar dan baik hati mengajar kami. Selama perjalanan menjadi seorang santri saya mendapatkan begitu banyak pembelajaran selain tentunya belajar mengenal huruf-huruf arab dan membaca Al-Qur’an.

Jauh di pikiran saya sewaktu masih anak-anak dulu adalah bahwa ketika saya mengingat Masjid yang terlintas di pikiran saya bukan shalat melainkan bahwa saya akan bertemu dengan teman-teman baru saya, mengaji bersama, bermain, berlarian, kejar-kejaran di masjid. Masjid menjadi tempat yang sangat “Fun” sehingga dulu, masjid menjadi magnet yang sangat kuat bagi kami anak-anak untuk datang ke masjid, ya walaupun masih ada hal yang tidak menyenangkan juga. Tetapi hal yang menyenangkan jauh lebih banyak.

Kami belajar mengaji setiap sore selepas shalat Ashar. Bu Jinne, bu Rohani dan pak Tono adalah 3 guru ngaji saya yang super duper baik dan sabar. Guru-guru yang masih suka marah-marah kepada siswa-siswanya mungkin harus belajar kepada ketiga guru ngaji saya ini tentang bagaimana cara menghadapi anak-anak. Mereka begitu sabar mengajari kami yang puluhan santri mengaji dimulai dari Iqra sampai Al-Qur’an. Tidak pernah tuh ada satu kalimat kasar yang keluar dari ketiga mulut beliau apalagi memukul. Mereka sangat berpengaruh dalam hidup saya. Mereka menjadi tauladan saya utamanya dalam hal bersabar.

Satu hal yang tidak menyenangkan sewaktu Santri dulu cuma tentang H.Tinri (Alm). Ya, Namanya H.Tinri, salah satu alasan kenapa kami mulai tidak nyaman di Masjid karena ada beliau yang selalu memarahi kami setiap kali kami bermain, berlarian di Masjid. Buat Beliau mungkin bahwa kehadiran kami (anak-anak) mengganggu padahal kami pun bermainnya setelah shalat ashar selesai dan setelah mengaji. Pokoknya H.Tinri selalu menjadi momok yang menakutkan bagi kami para santri yang suka bermain dan berlarian di Masjid. Makanya setiap kali mau bermain, kita lihat sekeliling dulu apakah H.Tinri ada atau tidak. Kalau ada, pecah deh suasana masjid, ributnya tidak ketulungan (hehehe). Tetapi ada saja sih teman yang membandel, walaupun H.Tinri ada tetap saja selalu ada santri yang bermain kejar-kejaran di dalam Masjid.

Makanya di usia dewasa saya sekarang saya mengerti sekali dengan dunia anak, dan berusaha untuk tidak melakukan hal yang orang dewasa dulu lakukan kepada saya sewaktu anak-anak yakni berkata kasar . Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman masa lalu bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan dalam hal ini kekerasan verbal maupun fisik akan begitu sangat membekas dan jadi trauma psikologis tersendiri. Mungkin saya adalah salah satu dari ribuan manusia yang sewaktu kecil sudah penuh dengan kekerasan. Kekerasan yang saya alami lebih banyak mengarah kepada kekerasan secara verbal. Ya saya sudah kenyang dengan Bullyan dari SD sampai SMA, tapi yah gituh, saya mah sabar orangnya walaupun sesekali nangis di pojokan hehehe.

Kekerasan terjadi karena banyak yang melakukan hal demikian dan akhirnya terbentuk lingkungan menjadikan itu sesuatu yang lumrah. Kekerasan terhadap anak tidak akan pernah hilang dari dunia ini selama kita masih menganggap ini adalah hal yang wajar-wajar saja. Dan please buat orang dewasa lainnya, dan ini yang kemudian saya ingin katakan semasa kecil dulu adalah tolong berhenti menjadi manusia dewasa yang menyebalkan yang tidak mengerti kami para anak-anak.

Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: